



Perpustakaan SMA merupakan perpustakaan yang benar-benar perpustakaan bagi saya. Saya ingat perkataan guru bahasa Indonesia SMP saya bahwa pusat dari suatu sekolah merupakan identitas sekolah tersebut. Pada sekolah negeri reguler, perpustakaan seharusnya menjadi pusat area sekolah. So far, Cahaya Madani menempatkan perpustakaannya di area yang strategis.
Pertama kali saya bermalam di asrama, saya mengunjungi perpustakaannya dan saya terkejut kagum dengan koleksi buku di perpustakaan SMA. Buku-buku di sana tidak hanya buku-buku pelajaran untuk sekolah unggulan seperti yang saya bayangkan. Buku-buku yang saya kenal namanya seperti The Queen of The Damnednya Anne Rice hingga beberapa buku Agatha Christie ada di sana. Buku Harry Potter dari The Sorcerer’s Stone hingga Half-Blood Prince ada di sana (Deathly Hallows ada pas kelas tiga SMA) Da Vinci Code dan Angels and Demons tidak ketinggalan ada di sana. Saya tidak membaca semua buku yang saya kagumi tersebut, tetapi untuk anak yang belum pernah menemui koleksi buku sekeren itu, saya senang. Kemudian, satu hal dari SMP yang saya gemari yaitu Ensiklopedia, juga ada dan lebih lengkap di perpustakaan SMA. Britannica dan Americana sekali-kali saya otak-atik untuk mencari informasi intermezzo ditengah mengerjakan tugas. Hal yang menyenangkan dari membaca ensiklopedia adalah ketika saya selesai membaca satu entri, maka saya melanjutkan pada suggestion yang ada di akhir entri tersebut hingga informasi yang saya baca seperti rangkaian buku cerita yang saling terkait dan menemukan ujung lain untuk dibaca.
Saya sering menghabiskan waktu ketika perpustakaan SMA dalam waktu kosong. Membaca di tengah ruangan dengan meja persegi yang besar dengan siluet pagi atau senja yang menembusi kaca-kaca perpustakaan. Terdengar sayup suara anak-anak satu sekolah di kejauhan. Pada saat hujan, ketukan dari tetes air langit yang turun biasanya mengiringi sapuan mata saya pada barisan huruf yang saya baca.
Sebenarnya, Almarhum paman saya yang mengenalkan minat baca pada saya. Ketika paman mendapatkan pekerjaan, menikah dan tinggal di Depok, paman pulang ke Rumah nenek sekitar sebulan sekali. Ketika paman menginap di rumah nenek, biasanya saya dan adik saya ikut menginap dan pada malam harinya kita pergi di ajak ke pusat perbelanjaan. Paman jarang melewatkan kunjungannya ke toko buku dan mulai memilih untuk koleksi pribadinya. Saya dan adik saya pun dibiarkan memilih buku yang kami sukai untuk dibeli. Paman memiliki keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi. Koleksi buku-bukunya ada dirumah nenek dan nenek saya senang sekali jika saya datang untuk meminjam dan membaca buku-buku tersebut. Kata nenek, hal itu akan membuat paman senang karena bukunya di baca.
Saya rasa keinginan untuk mengumpulkan buku itu menular pada saya. Ada keinginan untuk membangun perpustakaan pribadi di rumah saya nanti. Saya ingin membiarkan anak-anak sekitar rumah ikut merasakan minat baca mereka terpenuhi. Ilmu pengetahuan pada buku merupakan hak mereka, bukan hak sebagian orang yang dapat membeli dan mengoleksi buku. Akses dan persepsi perpustakaan yang hanya untuk orang bersekolah saja juga harus dikikis. Semoga itu bisa terwujud.


Depok, 19 Maret 2011
earth does spin, it does for thousands even million years
kawan, pernahkah kita menatap benda mati sekeliling kita? Bulan yang bersinar setiap malamnya, walau kadang dibalik awan. Matahari yang rajinnya menerangi bumi meski cacian panas yang kadang ia terima. Lalu, hujan yang mengisi dahaga bumi meski kadang keluhan yang ia dapat? Atau tak usahlah kita menatap jauh. Cobalah pada benda sekeliling yang lebih dekat. Kaos kaki yang menemani aktivitas kita seharian? Pulpen yang selalu kita paksa mengeluarkan tinta hingga habisnya?
Dalam Islam, ustadz saya pernah mengatakan bahwa semua ciptaanNya selalu bertasbih. Menyebut asma Allah. Semua ciptaanNya termasuk benda mati. Benda mati bertasbih dengan menjalankan fungsinya. Mulai dari matahari dengan sinarnya hingga sepatu yang kita pakai setiap harinya. Lalu, bagaimana manusia dengan segala keleluasaannya bertasbih? Mengingat Sang Pencipta? Ya, kadang keleluasaan ini menyebabkan manusia lupa akan nikmat dari Yang Maha Kuasa. Beberapa bahkan kalah dari tasbih yang dilakukan oleh benda mati tadi.
sun always shines everyday. Although people’s anger comes around.
Ketika benda-benda mati tersebut menjalankan fungsinya tanpa paksaan, lalu apakah kita sebagai manusia telah menjalankan fungsi kita? Berbuat apa yang seharusnya kita perbuat selama duduk, berjalan, menginjak, sedih, dan bahagia di atas bumi milikNya? Tidak hanya pikiran, perbuatan kita untuk berbuat lebih baik setiap harinya merupakan fungsi dasar kita. Ya, yang membedakan kita dengan benda mati ataupun benda bergerak tak berakal lainnya.
things around us. they existence represents The Blessings of Our Creator
Benda sekeliling kita dan ciptaan lainnya juga mengingatkan kita bahwa kita tidak sendiri. Kita tidak pernah sendiri. Mungkin kita secara manusiawi pernah bersedih hingga marah dan timbul kebencian hingga ketidakpedulian akan hidup. Namun, hidup kita menjadi hutang kawan. Kita berhutang pada Sang Pencipta dan ciptaannya. Tidak hanya orang tua, saudara, teman ataupun makhluk bergerak berakal lainnya. Melainkan untuk benda mati sekeliling kita yang telah setia menjalankan fungsinya.
Hidup adalah nikmat sekaligus tanggung jawab. Tidak jarang kita mellihat rekan, teman, saudara yang kita rasa sangat baik untuk sepantasnya hidup lebih lama di atas bumi justru berpulang lebih dulu. Sedangkan, nafas ini masih berhembus setiap harinya dalam diri kita. Lantas, sepantasnyakah kita lupa akan hidup kita ? Semoga amanah untuk hidup tidak salah diberikan pada kita semua. Amanah tidak pernah salah menunjuk pemiliknya. Semoga kita dapat membuktikannya.
*Supermoon 19 Maret. Perhaps, the word supermoon isn’t only coming from its shape, but also from the message within. And He always show His Blessings.
beberapa orang pulang
Sore, Fase peralihan dari masa berkuasanya Matahari menjadi dominasi kanvas gelap malam dengan cahaya Bintang dan Bulan. Menatap barat dengan Matahari yang seolah beranjak dari singgasana langitnya. Memberikan semburat jingga terakhir sebelum akhirnya gelap. Usai terangnya seharian. Saya senang menikmati sore.
***
I close both locks below the window
Saya, kamu, dan semuanya bangun di fajar. Sebagai pengisi bumi yang punya hidup masing-masing. Tidak semuanya mudah dan tidak akan pernah. Tetapi tidak semuanya sulit dan tidak akan pernah selalu sulit juga. Mungkin kita akan ingat hari-hari kecil kita. Atau beberapa masa yang memahat memori tertentu. Hangat. Ceria. Tawa. Senyum. Kebersamaan. Tiada lelahnya matahari pagi menyinari kita dengan hangatnya. Seolah berkata “ini harimu. Ini milikmu”. Hari-hari yang melukiskan senyum itu seolah membiarkan kita memilikinya. Dan kita senang dengannya. Hangat rasanya bagai matahari beranjak dari fajar.
Sometimes beginnings aren’t so simple
Tetapi terik kadang terasa menyengat. Matahari siang berbentuk bulat kecil terang yang bersinar secara vertikal di atas kita. Seakan angkuh, panasnya terkadang melemahkan. Dan kita juga memiliki hari-hari dimana kita marah menyengat kita. Sedih menyudutkan kita. Kesendirian. Rasanya lelah menjalani hari tanpa hal yang disukai. Seakan hancur, kadang harapan sirna dari kita. Merasa kalah dan kecewa hingga perasaan tiada guna untuk tetap melangkah.
The shadow of the day will embrace the world in grey
Dan bumi berputar. Bumi mengubah kedudukannya terhadap matahari sehingga terasa matahari yang beranjak pergi. Sinar menyengat itu perlahan berubah menjadi hangat. Memang tidak sehangat fajar. Tetapi kali ini ia membawa warna-warna yang indah. Cahaya senja, hamparan lukisan alam terasa seperti hadiah karena kita tidak menyerah melewati teriknya di waktu siang. Hari di mana kita berhasil menyelesaikan masalah. Menemukan kembali apa yang kita sukai. Tentu tidak dalam bentuk yang sama, tetapi ada sifat yang sama di dalamnya. Kita mendalami dan semuanya ternyata lebih baik. Apa yang kita dapatkan. Apa yang kita alami.
***
The sun will set for you
Hingga akhirnya lelah terakhir itu datang. Membawa kita dari kefanaan untuk melepas lelah terakhir. Meninggalkan segala letih, amarah, dan sedih yang kita rasakan. Juga merelakan senyum, tawa, canda dan cinta. Ketika tak lagi hangat atau terik yang kita rasakan. Semoga peralihan itu menjadi cahaya terang di ujung kisah. Matahari terbenam di ufuk barat setelah seharian bersinar. Hangat pada saat fajar, menyengat di saat siang, dan berwarna di saat senja. Dan manusia pun akan dikenang atas “hangat”, “terik”, dan “berwarnanya” dia saat bersinar. Matahari pun terbenam karena esok ia harus terbit lagi. Begitupun manusia yang tidak akan terus selalu bersinar karena mungkin dia diperlukan dalam bentuk lain.
Seperti sore yang menjadi epilog matahari, dialah yang menjadi epilog kehidupan. Dan semoga epilognya indah.
hey, lihat! Beberapa orang tersenyum datang
what's worth our life ?
what are we living for ?
everything has an end
what do you believe ?