Minggu, 23 September 2012
The Portrayals
Jumat, 24 Agustus 2012
Dalam Diskusi
Jumat, 20 April 2012
Rumah Pagi
Selepas lelah, kita berharap sejuknya ramah. Meneduhkan raga yang terkuras habis tenaganya atau baru saja melewati hari dengan aktivitas luar biasa. Tetapi, kemarin-kemarin saya berpikir bahwa tidak selamanya ramahnya rumah akan selalu hadir. Akan ada suatu hari di mana kulminasi lelah kita tidak lagi berujung rumah tercinta, tetapi tempat lain yang kita perlu usahakan untuk ada ramah. Ya, kita tidak akan tinggal di rumah selamanya, bukan..
Ketika libur kuliah dan menyempatkan pulang, kenangan sepi itu sering menggores memori. Pukul 10 pagi ketika bapak pergi ke kantor dan dua orang adik pergi sekolah, nenek sudah meninggal dan kadang mama pun tidak ada di rumah untuk menjemput adik. Tinggallah saya seorang. Dalam sepinya pagi, mengingat dalam-dalam goresan keceriaan dulu.
Rumah yang berbeda keceriaannya. Bapak yang biasanya ditunggu kedatangannya karena membawa kue sepulang kerja. Pertengkaran saya dan Bayu yang selalu dilerai mama dan berakhir kita berdua (atau salah satu) tidur kelelahan. Omelan nenek yang kadang diikuti oleh kue (sederhana) buatannya yang nikmat ditengah hujan. Dan tentunya berkumpul di ruang tengah dengan satu buah televisi dan kehangatan keluarga.
Tapi roda kehidupan memang tidak dapat dan tidak boleh ditahan..
Semuanya berputar karena kita perlu berubah. Kita tumbuh. Kita hidup. Kita digantikan. Dan semoga saja, keberadaan kita dapat membuat hidup lebih baik.
Six years
We still like cats
We’re still brothers
who are trying to make their parents proud of them
in their very own way
...
and we've got an angel company :)
Kamis, 15 Maret 2012
Reaksi Rasa
Bagaimana kalo engga ada suka atau benci, tapi cuma oksitosin yang bereaksi
Bagaimana kalo engga ada amarah, tapi cuma kortisol yang meningkat
Bagaimana kalo engga ada rasa takut, tapi cuma aktivitas amigdala di otak kita
Apa emosi itu ada? Atau hanya aktivitas kimiawi hormon dan biologis otak?
Kalo emosi itu hormonal, lalu karakter seseorang itu masih bisa diandalkan? Bagaimana jika rekayasa hormonal dapat mengubah karakter sesuai yang kita mau?
Kalau karakter itu hormonal, masih pedulikah kita untuk menyukai atau membenci seseorang?
Bagaimana yang kita benci atau sukai bukanlah orang itu atau karakter orang itu, tetapi kita membenci atau menyukai reaksi kimia yang terjadi pada orang itu?
Atau, bagaimana jika kita membenci atau menyukai orang lain karena reaksi kimia yang terjadi pada diri kita sendiri?
Rabu, 11 Januari 2012
Subspesies
People get to draw this neat little circle and everyone inside the circle is normal. Everyone outside the circle should be beaten, broken and reset so they can be brought into the circle. Failing that, they should be institutionalized, or worse, pitied. -House
***
Kata-kata di atas merupakan quote dari Dr. House di serial House MD episode Lines In The Sand. Episode ini nyeritain tentang anak autis yang tiba-tiba punya simptom yang engga terdiagnosis sehingga di bawa ke Departemennya Dr. House. Selebihnya, quote ini bermakna kalo orang-orang itu punya aturan sendiri dalam berkehidupan sosial yang diibaratkan sebuah lingkaran, orang yang dianggap normal akan masuk ke dalam lingkaran, sedangkan orang yang dianggap tidak normal akan dirusak, disingkirkan atau diperbaiki hingga akhirnya mereka bisa di bawa ke dalam lingkaran. Jika gagal dari itu, mereka akan diperbaiki lagi, atau biasanya, dikasihani.
Begitu juga kayaknya dalam pergaulan, beberapa orang punya pola pergaulan kaya lingkaran gitu. Mereka bakal bergaul dengan beberapa ‘jenis’ orang tertentu aja, gak salah sih, cuma ga enak aja. Kalopun beberapa orang berinteraksi dengan orang yang bukan jenisnya, mereka bakal berinteraksi seperlunya dan bahkan terkesan dipaksakan. Entahlah, manusia mengelompokkan makhluk hidup lain dari kingdom hingga spesies, bahkan subspesies pada beberapa makhluk hidup, dan ternyata manusia sendiri yang mengelompokkan dirinya ke subspesies. Homo sapiens hedonis, Homo sapiens religiunensis, Homo sapiens aktivis, dan lainnya. Sekali lagi gak salah sih, tapi ya.. gitu aja. Hahaha....ngik
Psycho Rangers. Dulu gak tau artinya Psycho, entah kenapa kedengerannya keren
Mind-numbing social niceties
Lebih parah lagi kalau beberapa subspesies manusia harus tersingkir dari kompetisi, eleksi atau apapun yang sejenis dalam populasi karena status subspesies dia yang gak sesuai dengan subspesies dominan dan nilai-nilai kompetensi diabaikan. It’s load of crap, you know.
So, whoever you are. Let’s recalibrate your point of view of people. Don’t get emotionally stupid. Salam (tempel).
Sabtu, 26 November 2011
Tentang Langit dan Saya
Semenjak kuliah, saya jadi jarang liat langit. Bukan gak ada kerjaan sih, tapi kadang melihat langit itu bisa menjadi hikmah sendiri ketika kita mau sedikit merenung. Sumpek dan penuhnya atas tanah kadang membuat saya menengok langit sebentar, langit yang cerah begitu terhampar luas. Kosong seperti padang rumput yang dilukis biru muda dan mengajak kita berlompat ria untuk berbahagia seperti anak kecil yang mengejar gelembung balon. Langit, tanpa disadari, diciptakan untuk memberi manusia pelajaran. Tentang harapan, kenangan, hingga kematian.
Langit fajar
Belajar di SMA dengan sistem modern Islamic boarding school mengharuskan saya untuk shalat berjamaah lima waktu, termasuk shalat shubuh. Pada masa ‘dibentuk’ itulah saya sering menikmati langit fajar dengan siluet jingga yang berasal dari bola merah kecil yang perlahan menyisir langit gelap hingga terbit seutuhnya. Baris jingga yang terbit itu membawa kehangatan tersendiri dari ufuk timur. Langit fajar memberikan pelajaran tentang harapan, bahwa Allah memberikan harapan diterbitkan setiap harinya. Bahwa setelah saat tergelap dari fase langit akan diikuti oleh semburat jingga yang perlahan menerangi bumi. Bagi mereka yang menikmati langit fajar sesudah shubuh dan bagi mereka yang tak lelah menanti harapan setelah saat-saat tergelapnya.
Langit senja
Siluet jingga yang lebih muda dari langit fajar sering saya nikmati sebelum shalat maghrib. Langit biru menjadi merah yang berpusat pada bola yang perlahan beristirahat di ufuk barat cakrawala. Bola merah itu menarik cahayanya agar mata kita bisa menemui fase yang lebih cocok untuk istirahat. Seperti selimut yang ditarik, langit senja pun perlahan menarik segala kenangan seharian. Senja menjadi penutup hari, baik hari yang cerah, panas, mendung ataupun hari yang dihabiskan dengan istirahat penuh. Senja menjadi pelajaran bahwa suatu saat hidup kita akan usai. Manusia akan menemui senjanya untuk beristirahat kekal setelah letih semasa hidup.
Langit malam berbintang
Ayahnya Simba di film Lion King bilang bahwa para pendahulu yang baik akan menjadi titik terang di langit malam. Saya bukan tipe orang yang bisa mengobrol banyak hal dengan menghabiskan waktu dibawah kanvas gelap bertitik banyak dan terang. Namun, sesekali pada momen-momen terindah bersama sahabat, saya menyempatkan menengok langit malam dan biasanya sedang berbintang cerah. Di kesempatan yang lain atau momen indah yang lain, saya pun menyempatkan untuk menengok langit malam dan kenangan indah, terutama bersama sahabat, kembali dimainkan lewat potongan-potongan memori hingga mengukir senyum tersendiri. Pada saat perjalanan, saya pun menyempatkan menengok langit lewat jendela bus atau kereta dan kehangatan dari momen indah bersama sahabat pun menemani sisa perjalanan saya.
Langit siang pun selalu berkesan untuk dilihat ketika kita tidak menatap langsung si bola kuning yang tengah bersinar tepat di atas kepala dengan teriknya. Hamparan kanvas biru muda dengan balutan kapas tebal maupun tipis yang beriring lambat menaungi segala sesak bumi sejak dahulu. Langit menyaksikan kelahiran, kebahagiaan, duka hingga kematian. Langit tanpa dinding tak pernah lelah menopang segala jenis kehidupan dibawahnya walaupun justru ia disakiti dengan cara dilubangi. Langit adalah bentuk hikmah Maha Kuasa bagi mereka yang berpikir.
Dan langit belum lelah menyaksikan saya menghabiskan umur yang merupakan anugerah dari Allah sampai saat ini.
fajar SMA, dapat dinikmati oleh orang yang rajin shubuh :)
courtesy: ust. Afif
Song through this post: Depapepe – Time, makes me feel comfy.




