Tampilkan postingan dengan label Ujung Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ujung Pena. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 September 2012

The Portrayals


Solely, The Soul walks through the street of bricks, guiding him to rest. Beyond that warm-blanketed afternoon, he wonders the days before the star falling. The days where complication is unheard and joys would not have floated in ease. Pure, hope it whispers.

Encompassed by the sephia-colored sky,  fragment of memories flash before his mind. In confusion, he peels out the truth from its flesh, then trying to reverse the pieces into senses. Deeds are under the fence, yet the fences are corrosive. The land is allowed to be awful. Questions burst.

Do we act? Or do we portray those chemical reactions? Or do we portray our own determined fate?

The Soul, as one of The Portrayals, is sometimes losing the ground to stand. Sometimes, The Ones who raised his wings are weakened. Somehow, The Chain he believes is collapsing. He wishes a Pure whispering through the silence, telling him it’s not a sentence for questioning but it’s a sin for doing nothing.

We are nothing but A Portrayal. We portray several roles, some of us are not even aware when portraying their last role, until a final holds us to the last breath.

Jumat, 24 Agustus 2012

Dalam Diskusi


Diskusi, ngobrol, sharing, debat atau apapun jenis pertemuan dua orang atau lebih yang berfokus pada proses argumentasi selalu punya identitas masing-masing. Tergantung orang di dalamnya. Nah, saya mau mencoba sharing tipe-tipe orang dalam diskusi. Ini pendapat pribadi, pasti banyak kekurangannya. Semoga bermanfaat.

Tipe pertama, dalam beberapa ngobrol, kita bisa menemui beberapa jenis orang yang mengemukakan ‘kehebatannya’ terlebih dahulu. Orang jenis ini biasanya menggunakan referensi dan istilah yang ia kuasai sendiri. Orang ini kadang membawa pendahuluan, cerita, dan lelucon yang kadang kurang substantsial pada diskusi. Ia hanya merasa perlu membawa diskusi itu sesuai pendapatnya. Poin akhir dari diskusi dengan orang seperti ini biasanya bukan kesimpulan diskusi, melainkan sejauh mana porsi argumen pribadinya bisa dijadikan kesimpulan bersama. Ciri khasnya, ia biasa menambahkan ‘iya, gak..’ diakhir pendapatnya. Kadang imbuhan itu ia ulangi sampai peserta diskusi lainnya manggut terpaksa.

Tidak ada salahnya berdiskusi dengan orang seperti ini. Sejujurnya, orang kayak gini bahkan dibutuhkan. Menurut saya, argumen menarik itu harus dapat dipertahankan dan bisa menetralkan negasinya semaksimal mungkin, terlepas dari seberapa arogan dan annoying orang yang membawakannya. Tetapi orang seperti ini memang perlu diingatkan pada kadar tertentu. Sayangnya, kebanyakan orang sudah menutup telinga terlebih dahulu terhadap pendapat orang yang digolongkan sebagai orang arogan atau annoying ini. Sejauh saya mengikuti dan mendengar diskusi, tipe seperti ini paling banyak di masyarakat.

Ada juga tipe orang yang cenderung manggut sana-sini. Tidak punya titik berpijak dalam diskusi. Biasanya orang ini sering mengucapkan ‘iya, maksud saya juga gitu… ’ Orang seperti ini juga tidak memiliki poin akhir untuk mencapai kesimpulan diskusi, melainkan keamanan posisinya dengan argumen mayoritas pada akhir diskusi. Orang seperti ini juga punya kebiasaan lain yaitu suka ‘menengahi’ dan ‘menyimpulkan’, padahal diskusi belum runcing dan belum pantas disimpulkan. Tipe kata yang biasa dipakai itu ‘yaudah, jadi intinya..’ ketika diskusi belum terasa cocok mencapai inti. Tipe yang seperti ini lebih enggak asik dari tipe yang pertama disebut tadi.

Sebenernya paling asik diskusi sama tipe yang ketiga. Orang yang berpengetahuan, tapi enggak sok. Orang yang punya tujuan akhir berupa kesimpulan akhir. Orang yang siap dibenci karena mengemukakan kemungkinan terburuk (yang enggak lebay) dari sebuah argumen tapi juga nyantai dalam pembawaan argumennya. Tanpa diminta, biasanya kita akan manggut-manggut tanpa sadar. Orang seperti ini akan bicara ketika ia sudah siap bicara dan menanggung negasi dari pendapatnya. Karena ia memiliki tujuan akhir berupa kesimpulan diskusi, orang seperti ini enggak akan marah, kecewa, apalagi ngambek ketika pendapatnya berhasil dinegasikan. Tidak harus berkarisma seperti pemimpin atau sangat berpengetahuan luas, tetapi yang dibutuhkan adalah kemampuan memulai topik, menggabungkan serta menyikapi argumen yang ada. Dibumbui dengan pembawaan yang khas, tipe seperti ini sangat menarik dalam diskusi.

these guys have been experimenting with music for over a decade. that rocks!


Kesimpulannya? Penggolongan orang dalam diskusi ini dapat dipakai untuk mendapatkan poin inti dari argument seseorang sesuai daya terima kita masing-masing. Akan tetapi, suatu kesalahan besar ketika kita sudah menutup kuping terlebih dahulu karena penggolongan kita dalam diskusi. Lagipula, seemas apapun kesimpulan akhir dari suatu diskusi, maka akan sia-sia ketika tidak ada realisasi nyata dari hasil diskusi itu.Dan satu lagi, berdiskusi dengan teman dekat itu mengasyikkan. Mari berkarya! Mari perbanyak teman! :D

Kalian masuk tipe yang mana? Atau ada tipe lain yang pernah kalian jumpai?


...


Anyway, ditengah demam k-pop dan musik synthetizer zaman sekarang, banyak juga Band Rock yang rilis album atau single.

Yang worth-listened (menurut saya) antara lain:

Linkin Park – Living Things (2012-released Album)
One Ok Rock – The Beginning (single)
Soundgarden – Live to Rise (The Avengers’ OST)
Three Days Grace – Chalk Outline (Album: Transit of Summer)
Hoobastank – This is Gonna Hurt (Fight or Flight)
Green Day – Oh, Love (UNO)
Papa Roach – Still Swingin’ (The Connection)
Yellowcard - Always Summer (Southern Air)
Muse – Madness (The 2nd Law)
Seether – Sympathetic (One Cold Night)

Would you like to share your list? 

Jumat, 20 April 2012

Rumah Pagi

Saya selalu berpikir bahwa selalu akan ada cahaya diujung terowongan.

Selepas lelah, kita berharap sejuknya ramah. Meneduhkan raga yang terkuras habis tenaganya atau baru saja melewati hari dengan aktivitas luar biasa. Tetapi, kemarin-kemarin saya berpikir bahwa tidak selamanya ramahnya rumah akan selalu hadir. Akan ada suatu hari di mana kulminasi lelah kita tidak lagi berujung rumah tercinta, tetapi tempat lain yang kita perlu usahakan untuk ada ramah. Ya, kita tidak akan tinggal di rumah selamanya, bukan..

Ketika libur kuliah dan menyempatkan pulang, kenangan sepi itu sering menggores memori. Pukul 10 pagi ketika bapak pergi ke kantor dan dua orang adik pergi sekolah, nenek sudah meninggal dan kadang mama pun tidak ada di rumah untuk menjemput adik. Tinggallah saya seorang. Dalam sepinya pagi, mengingat dalam-dalam goresan keceriaan dulu.

Rumah yang berbeda keceriaannya. Bapak yang biasanya ditunggu kedatangannya karena membawa kue sepulang kerja. Pertengkaran saya dan Bayu yang selalu dilerai mama dan berakhir kita berdua (atau salah satu) tidur kelelahan. Omelan nenek yang kadang diikuti oleh kue (sederhana) buatannya yang nikmat ditengah hujan. Dan tentunya berkumpul di ruang tengah dengan satu buah televisi dan kehangatan keluarga.

Tapi roda kehidupan memang tidak dapat dan tidak boleh ditahan..

Semuanya berputar karena kita perlu berubah. Kita tumbuh. Kita hidup. Kita digantikan. Dan semoga saja, keberadaan kita dapat membuat hidup lebih baik.


Six years

We still like cats

We’re still brothers

who are trying to make their parents proud of them

in their very own way


...


and we've got an angel company :)


Kamis, 15 Maret 2012

Reaksi Rasa

Bagaimana kalo engga ada suka atau benci, tapi cuma oksitosin yang bereaksi

Bagaimana kalo engga ada amarah, tapi cuma kortisol yang meningkat

Bagaimana kalo engga ada rasa takut, tapi cuma aktivitas amigdala di otak kita

Apa emosi itu ada? Atau hanya aktivitas kimiawi hormon dan biologis otak?

Kalo emosi itu hormonal, lalu karakter seseorang itu masih bisa diandalkan? Bagaimana jika rekayasa hormonal dapat mengubah karakter sesuai yang kita mau?

Kalau karakter itu hormonal, masih pedulikah kita untuk menyukai atau membenci seseorang?

Bagaimana yang kita benci atau sukai bukanlah orang itu atau karakter orang itu, tetapi kita membenci atau menyukai reaksi kimia yang terjadi pada orang itu?

Atau, bagaimana jika kita membenci atau menyukai orang lain karena reaksi kimia yang terjadi pada diri kita sendiri?

Rabu, 11 Januari 2012

Subspesies

People get to draw this neat little circle and everyone inside the circle is normal. Everyone outside the circle should be beaten, broken and reset so they can be brought into the circle. Failing that, they should be institutionalized, or worse, pitied. -House

***

Kata-kata di atas merupakan quote dari Dr. House di serial House MD episode Lines In The Sand. Episode ini nyeritain tentang anak autis yang tiba-tiba punya simptom yang engga terdiagnosis sehingga di bawa ke Departemennya Dr. House. Selebihnya, quote ini bermakna kalo orang-orang itu punya aturan sendiri dalam berkehidupan sosial yang diibaratkan sebuah lingkaran, orang yang dianggap normal akan masuk ke dalam lingkaran, sedangkan orang yang dianggap tidak normal akan dirusak, disingkirkan atau diperbaiki hingga akhirnya mereka bisa di bawa ke dalam lingkaran. Jika gagal dari itu, mereka akan diperbaiki lagi, atau biasanya, dikasihani.

Begitu juga kayaknya dalam pergaulan, beberapa orang punya pola pergaulan kaya lingkaran gitu. Mereka bakal bergaul dengan beberapa ‘jenis’ orang tertentu aja, gak salah sih, cuma ga enak aja. Kalopun beberapa orang berinteraksi dengan orang yang bukan jenisnya, mereka bakal berinteraksi seperlunya dan bahkan terkesan dipaksakan. Entahlah, manusia mengelompokkan makhluk hidup lain dari kingdom hingga spesies, bahkan subspesies pada beberapa makhluk hidup, dan ternyata manusia sendiri yang mengelompokkan dirinya ke subspesies. Homo sapiens hedonis, Homo sapiens religiunensis, Homo sapiens aktivis, dan lainnya. Sekali lagi gak salah sih, tapi ya.. gitu aja. Hahaha....ngik


Psycho Rangers. Dulu gak tau artinya Psycho, entah kenapa kedengerannya keren


Mind-numbing social niceties

Lebih parah lagi kalau beberapa subspesies manusia harus tersingkir dari kompetisi, eleksi atau apapun yang sejenis dalam populasi karena status subspesies dia yang gak sesuai dengan subspesies dominan dan nilai-nilai kompetensi diabaikan. It’s load of crap, you know.



So, whoever you are. Let’s recalibrate your point of view of people. Don’t get emotionally stupid. Salam (tempel).

Sabtu, 26 November 2011

Tentang Langit dan Saya

Semenjak kuliah, saya jadi jarang liat langit. Bukan gak ada kerjaan sih, tapi kadang melihat langit itu bisa menjadi hikmah sendiri ketika kita mau sedikit merenung. Sumpek dan penuhnya atas tanah kadang membuat saya menengok langit sebentar, langit yang cerah begitu terhampar luas. Kosong seperti padang rumput yang dilukis biru muda dan mengajak kita berlompat ria untuk berbahagia seperti anak kecil yang mengejar gelembung balon. Langit, tanpa disadari, diciptakan untuk memberi manusia pelajaran. Tentang harapan, kenangan, hingga kematian.

Langit fajar

Belajar di SMA dengan sistem modern Islamic boarding school mengharuskan saya untuk shalat berjamaah lima waktu, termasuk shalat shubuh. Pada masa ‘dibentuk’ itulah saya sering menikmati langit fajar dengan siluet jingga yang berasal dari bola merah kecil yang perlahan menyisir langit gelap hingga terbit seutuhnya. Baris jingga yang terbit itu membawa kehangatan tersendiri dari ufuk timur. Langit fajar memberikan pelajaran tentang harapan, bahwa Allah memberikan harapan diterbitkan setiap harinya. Bahwa setelah saat tergelap dari fase langit akan diikuti oleh semburat jingga yang perlahan menerangi bumi. Bagi mereka yang menikmati langit fajar sesudah shubuh dan bagi mereka yang tak lelah menanti harapan setelah saat-saat tergelapnya.

Langit senja

Siluet jingga yang lebih muda dari langit fajar sering saya nikmati sebelum shalat maghrib. Langit biru menjadi merah yang berpusat pada bola yang perlahan beristirahat di ufuk barat cakrawala. Bola merah itu menarik cahayanya agar mata kita bisa menemui fase yang lebih cocok untuk istirahat. Seperti selimut yang ditarik, langit senja pun perlahan menarik segala kenangan seharian. Senja menjadi penutup hari, baik hari yang cerah, panas, mendung ataupun hari yang dihabiskan dengan istirahat penuh. Senja menjadi pelajaran bahwa suatu saat hidup kita akan usai. Manusia akan menemui senjanya untuk beristirahat kekal setelah letih semasa hidup.

Langit malam berbintang

Ayahnya Simba di film Lion King bilang bahwa para pendahulu yang baik akan menjadi titik terang di langit malam. Saya bukan tipe orang yang bisa mengobrol banyak hal dengan menghabiskan waktu dibawah kanvas gelap bertitik banyak dan terang. Namun, sesekali pada momen-momen terindah bersama sahabat, saya menyempatkan menengok langit malam dan biasanya sedang berbintang cerah. Di kesempatan yang lain atau momen indah yang lain, saya pun menyempatkan untuk menengok langit malam dan kenangan indah, terutama bersama sahabat, kembali dimainkan lewat potongan-potongan memori hingga mengukir senyum tersendiri. Pada saat perjalanan, saya pun menyempatkan menengok langit lewat jendela bus atau kereta dan kehangatan dari momen indah bersama sahabat pun menemani sisa perjalanan saya.

Langit siang pun selalu berkesan untuk dilihat ketika kita tidak menatap langsung si bola kuning yang tengah bersinar tepat di atas kepala dengan teriknya. Hamparan kanvas biru muda dengan balutan kapas tebal maupun tipis yang beriring lambat menaungi segala sesak bumi sejak dahulu. Langit menyaksikan kelahiran, kebahagiaan, duka hingga kematian. Langit tanpa dinding tak pernah lelah menopang segala jenis kehidupan dibawahnya walaupun justru ia disakiti dengan cara dilubangi. Langit adalah bentuk hikmah Maha Kuasa bagi mereka yang berpikir.

Dan langit belum lelah menyaksikan saya menghabiskan umur yang merupakan anugerah dari Allah sampai saat ini.


fajar SMA, dapat dinikmati oleh orang yang rajin shubuh :)

courtesy: ust. Afif

Song through this post: Depapepe – Time, makes me feel comfy.