Anyway, it is not an English assignment. It is purely an English review made by an audience of a movie and a fan of an anime series.
Sabtu, 12 Januari 2013
[English Review] Kenshin
Anyway, it is not an English assignment. It is purely an English review made by an audience of a movie and a fan of an anime series.
Jumat, 24 Agustus 2012
Dalam Diskusi
Sabtu, 05 Mei 2012
Sherlock vs Holmes
Rabu, 25 Januari 2012
Sherlock: Not A Review :p
Dialog analisis Sherlock yang cepet ditambah aksen British yang lumayan kental emang bikin beberapa scene mesti diulang biar ngerti. Tapi, buat yang males perhatiin detail analisis Sherlock, alur utamanya tetep jelas dan bisa diikutin.
and I found some awesome scenes that worth being snapshot :)
Holmes brothers. Sherlock (left) and Mycroft (right). Duo jenius di dunianya masing-masing
Sherlock (left) a Consulting Detective is in one cell with Moriarty (right) a Consulting Criminal
what is The Final Problem, Sherlock?FYI. kita juga bisa nemu Benedict Cumberbatch (Sherlock) yang jadi naga dan Martin Freeman (Watson) yang jadi Bilbo di The Hobbit. Haha
Gambar terakhir agak spoiler nih, hehe
Sherlock Holmes Indonesia *Sherlockian kudu masuk..
Sherlockology *Fan site, cobain download ring tone-nya. Cool!
Kamis, 25 Agustus 2011
Movie Scenes
Jam 01.45 AM dan gue belum tidur. Posisi di rumah dengan koneksi internet dan tv. Yap, banyak dukungan buat nikmatin malem lebih lama. Akhirnya dengan koneksi internet, gue iseng midnight browsing *bukan browsing yang itu **yang mana?!? ***yasudah
Gue suka nonton film, kadang (sok) ngutip beberapa quotes dari filmnya. Biasanya, ada beberapa scene dalam satu film yang bakal bikin film itu seru. Kebanyakan dari unforgettable scenes itu adanya di akhir sih, kayak klimaksnya. So, gue mau post beberapa scene film dari film favorit gue.
Here they go..
1. Remember Me
Scene favorit gue dari film yang dibintangi Robert Pattinson ini ada diakhir filmnya yang sekaligus jadi ending yang engga terkira banget. Filmnya dari awal membawa kita dengan background cerita kehidupan Tyler Hawkins yang broken home dan punya masalah kepribadian. Eh, tapi ga nyangka banget kalau ending filmnya bakal ngerangkum isi film seluruhnya dan benar-benar jadi ending. Music background dan quotes dari sang tokoh utama bikin endingnya lebih terasa dan gue pilih sebagai best scene dari film ini.
2. The Dark Knight
Dibuka dengan scene perampokan sampai peledakan rumah sakit, sequel film Batman yang disutradai Christopher Nolan ini emang thrilling banget. Belum lagi musiknya yang dikomposisi oleh Hans Zimmer. Film ini 'memaksa' kita buat ngikutin terus. Apalagi Joker yang dibintangi Heath Ledger itu beneran gilanya. Scene yang gue suka yaitu ketika Joker bawa truk ke tengah kota buat nyulik Harvey Dent yang ngaku jadi Batman buat menyelamatkan kota Gotham. Joker yang psychologically insane ini berhasil dihentikan oleh Batman. Well, truk kebalik hingga Batman yang diuji abis-abisan prinsipnya oleh Joker bikin scene ini jadi favorit gue.
3. Constantine
One of my favourite supernatural movies. Film yang diadaptasi dari Vertigo Comics ini nampilin Keanu Reeves sebagai detektif supernatural yang anti-sosial, John Constantine. Film ini gak menitikberatkan slasher scenes meskipun ada adegan iblis dan neraka. Pemahaman penonton yang lebih diajak main untuk bisa ngikutin cerita Constantine dalam mencegah Putra Iblis biar gak dateng ke dunia manusia di tengah umurnya yang sekarat. Meski beda dengan tampilan komiknya, Constantine di film ini masih tetep keren (sombongnya). Scene Constantine ketemu Lucifer yang jadi scene favorit gue.
4. Frequency
Mungkin fim ini gak terlalu terkenal. Nyari scenenya di YouTube aja lumayan susah. Film tahun 2000 yang dibintangi Jim Caviezel ini bercerita tentang komunikasi masa depan dan masa lalu yang berakibat perubahan jalan hidup seseorang. Seorang polisi dengan kehidupan pribadi yang rusak memiliki kesempatan buat ngobrol dengan ayahnya yang mati puluhan taun sebelumnya karena kebakaran. Bayangin aja, gimana kalo lo punya kesempatan buat ngobrol dan mencegah kematian ayah sendiri?! Dennis Quaid yang emang spesialis pemeran sosok ayah berhasil bawa suasana di film ini. Tentunya, scene favorit gue adalah ketika John (sang polisi) bisa ngobrol pertama kali dengan ayahnya lewat radio tua di rumahnya sendiri.
Overall, dua film action dan dua film drama yang gue pilih scene favoritnya. Sebenernya, film bagus gak harus ada scene favoritnya, kok. Gue pernah nonton film yang dari awal sampai akhir itu sama semua, tapi mood nonton lagi bagus dan nilai (ceileeh) yang ada di film itu gue dapet. Tapi kadang, ada film yang katanya bagus dan ditonton pas lagi engga mood itu bakal gak dapet banget sensenya. Anyway, ini cuma opini. Have fun! :D
Rabu, 10 Agustus 2011
The Killing: Perception is Circumstantial
Liburan ini, gue ngisi hiburan dengan nonton TV Series. Bukan karena ga ada modal buat jalan-jalan dan sebangsanya, tapi kesempatan finansial yang belum berpihak. *skip. Postingan (sejenis) review TV series yang udah ditonton selama liburan ini bakal jadi yang pertama. Review ini amatir banget, jadi jangan timpuk bata (monitornya), gan!
Salah satu TV Series yang baru kelar gue tonton yaitu The Killing. Series ini tayang di AMC . Yap, judulnya bukan The Killings atau The Murders tapi The Killing karena satu season yang banyaknya 13 episod dengan 2-hour special premiere ini mengupas habis satu kasus pembunuhan. Cuma satu kasus? Ngebosenin dong? Awalnya gue juga (nyoba) mikir kaya gitu, tapi ternyata asik juga buat ditonton. Kalo di CSI atau crime series lainnnya, satu kasus pembunuhan bisa kelar satu episode maka The Killing menyajikan segala sisi dari kasus pembunuhan yang satu ini. Tagline series ini yang bikin penasaran : “Who killed Rosie Larsen?”
Di awali dengan terbunuhnya Rosie Larsen, anak perempuan satu-satunya dari pasangan Stan dan Mitch Larsen dan kakak dari dua bocah laki-laki. Keluarga ini pada awalnya sangat bahagia. Mereka punya perusahaan angkut muat barang. Namun sepeninggal Rosie, keluarga ini mulai pecah. Kita bisa liat efek psikis dari hilangnya satu anggota keluarga yang parah banget di series ini.
Kasus pembunuhan Rosie ditangani sama Detektif Linden, seorang single parent dengan satu anak laki-laki yang agak bandel. Det Linden dibantu sama Det Holder, seorang drug addict yang baru aja dipindahin ke Divisi Pembunuhan tempat Det Linden kerja. Ceritanya, Det Linden ini udah punya calon ayah yang baru untuk anaknya dan bakal pindah untuk kehidupan barunya tapi semua itu terganjal sama kasus pembunuhan Rosie Larsen ini.
Di sisi lain ada juga cerita pemilihan walikota yang menempatkan Darren Richmond sebagai calon yang turun naik pamornya gara-gara kasus Rosie Larsen ini juga. Ternyata, Councilman Richmond ini punya peranan penting dalam Kasus pembunuhan Rosie Larsen ini. Tersangka kasus pembunuhan Rosie Larsen ini juga variatif, mulai dari temen SMAnya, gurunya hingga tersangka terakhir yang engga disangka-sangka banget *tapi bukan kayanya. Diliatin juga keadaan perpolitikan dalam pemilihan walikota Seattle (yang jadi background series ini), terus kultur masyarakat Amrik terhadap ummat Muslim paska 9/11.
Sama kaya TV Series AMC yang hit sebelumnya yaitu The Walking Dead, post-apocalyptic TV Series yang engga hanya bercerita tentang zombie, The Killing menyajikan sisi lain dari kasus pembunuhan Rosie Larsen. Overall, series ini bakal ngebosenin buat orang yang engga terlalu suka detail cerita dan pengen ceritanya to the point beres. Soalnya, series ini banyak bercerita juga soal masalahnya Detektif Linden yang single parent, Councilman Richmond sebagai kandidat walikota, masalah keluarga Larsen hingga fakta-fakta dibalik siapa Rosie sebenernya. Spoiler aja, ending dari series yang menang lumayan banyak Emmy Awards ini bakal ngegantung dan kemungkinan pasti ada season selanjutnya. I’m all over excited to this series. FYI buat yang langganan TV Kabel, The Killing bakal tayang di FOX.
kaskus linkimdb review
minishares download :p





