Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

[English Review] Kenshin


Anyway, it is not an English assignment. It is purely an English review made by an audience of a movie and a fan of an anime series.

Ruroni kenshin, or simply known as Samurai X, is a widely popular manga. It has been adapted into anime and several OVAs. This year, Warner Bros takes a chance to adapt this Restoration-Era-manga into a live action movie. The movie was released on August 2012. This time, I’ll present you the movie review into two parts: apart from the original story and anime-movie comparison.

Apart from the original story
First, let’s put aside the manga or anime imagination from the movie. Generally, Rurouni Kenshin is a well-scripted movie. The story is simply amazing and describing a singular phenomena about The Good versus The Evil decorated by Post-Restoration era in Japan. The characters are as well building up the climax of this simple story. This movie will entertain audiences who are not expecting the complicated philosophy in a film. Unfortunately, the film-taking is not much compelling. Most of the fighting scenes are not cinematographed well. So, it seems like we are watching the swinging swords and sudden dead people without any clear clashes in between. The Meiji-Era setting is also not well developed. It seems like we are watching a Japanese drama in a particular studio. Mostly, we can not enjoy the Post-Restoration setting which consists of Meiji-Era buildings and people. So, apart from the original story, this movie is much entertaining because of the simple story and characters which build up to it.

Anime-movie comparison
If you are well aware with the story arcs from the original story, you will see the story of this movie is unclear and crowded story. This movie is trying to tie several story arcs (even OVAs) into one new story. As we aware with the original story, we will see the lack of elaboration and complicated philosophy which is actually a value from Rurouni Kenshin original story. We won’t see the personality growths from each character because they are compressed into a nearly two hour live action movie. The character, especially Kenshin Himura or The Battousai, is not well elaborated despite a good acting from Takeru Satoh as the post-manslayer wanderer. Originally, Kenshin is a complicated character with a deep turning philosophy from a cold-blood manslayer fighting for Restoration into a naïve gold-hearted wanderer. But in the movie, we only see a person walks into path of redemption without any principal justification as we see in the original story. Same thing goes to Saito character which is described as a loyal police without showing his Shinsengumi ‘Slay, Evil, Immediately’ philosophy in this movie.

Then, the dramatization of the movie is not well-developed. Rurouni Kenshin, even is a samurai movie, is not a full-slasher movie. The dramatization of the story is needed for making this movie granted to be remembered. The original soundtracks which made by Noriyuki Asakura in three seasons of Rurouni Kenshin anime is achieving a high dramatization of the original story. As the result, we can see that people will always remember several Rurouni Kenshin story. The movie adaption will gain a greater good if the dramatization, especially in original soundtracks, succeeds.

Conclusion
Rurouni Kenshin is simply a great live action movie. it is basically entertaining. But, this anime-comparing is happened when the storyline of the live action movie does not satisfy audience well. Of course, it is hard to please people, especially the hardcore fans. But, several noble values of the original story need to be elaborated in an adaption in order to gather the old fans and newer audience of the movie. A hope rises for the next adaptation of Rurouni Kenshin story. I personally think that Trust and Betrayal OVAs is worth to be adapted as the next live action movies with several cameos of Kamiya Dojo casts. This adaptation is needed to elaborate Kenshin character. As the third adaptation, it will be great if Kyoto Arc (Shishio and Juppongatama awaits!) combined with Enishi Arc (even if Enishi’s accomplices have been shown in this movie) is installed as the epic conclusion. I think it will be a great series of movie, that I really do.


 having a good day everyone ?      

Jumat, 24 Agustus 2012

Dalam Diskusi


Diskusi, ngobrol, sharing, debat atau apapun jenis pertemuan dua orang atau lebih yang berfokus pada proses argumentasi selalu punya identitas masing-masing. Tergantung orang di dalamnya. Nah, saya mau mencoba sharing tipe-tipe orang dalam diskusi. Ini pendapat pribadi, pasti banyak kekurangannya. Semoga bermanfaat.

Tipe pertama, dalam beberapa ngobrol, kita bisa menemui beberapa jenis orang yang mengemukakan ‘kehebatannya’ terlebih dahulu. Orang jenis ini biasanya menggunakan referensi dan istilah yang ia kuasai sendiri. Orang ini kadang membawa pendahuluan, cerita, dan lelucon yang kadang kurang substantsial pada diskusi. Ia hanya merasa perlu membawa diskusi itu sesuai pendapatnya. Poin akhir dari diskusi dengan orang seperti ini biasanya bukan kesimpulan diskusi, melainkan sejauh mana porsi argumen pribadinya bisa dijadikan kesimpulan bersama. Ciri khasnya, ia biasa menambahkan ‘iya, gak..’ diakhir pendapatnya. Kadang imbuhan itu ia ulangi sampai peserta diskusi lainnya manggut terpaksa.

Tidak ada salahnya berdiskusi dengan orang seperti ini. Sejujurnya, orang kayak gini bahkan dibutuhkan. Menurut saya, argumen menarik itu harus dapat dipertahankan dan bisa menetralkan negasinya semaksimal mungkin, terlepas dari seberapa arogan dan annoying orang yang membawakannya. Tetapi orang seperti ini memang perlu diingatkan pada kadar tertentu. Sayangnya, kebanyakan orang sudah menutup telinga terlebih dahulu terhadap pendapat orang yang digolongkan sebagai orang arogan atau annoying ini. Sejauh saya mengikuti dan mendengar diskusi, tipe seperti ini paling banyak di masyarakat.

Ada juga tipe orang yang cenderung manggut sana-sini. Tidak punya titik berpijak dalam diskusi. Biasanya orang ini sering mengucapkan ‘iya, maksud saya juga gitu… ’ Orang seperti ini juga tidak memiliki poin akhir untuk mencapai kesimpulan diskusi, melainkan keamanan posisinya dengan argumen mayoritas pada akhir diskusi. Orang seperti ini juga punya kebiasaan lain yaitu suka ‘menengahi’ dan ‘menyimpulkan’, padahal diskusi belum runcing dan belum pantas disimpulkan. Tipe kata yang biasa dipakai itu ‘yaudah, jadi intinya..’ ketika diskusi belum terasa cocok mencapai inti. Tipe yang seperti ini lebih enggak asik dari tipe yang pertama disebut tadi.

Sebenernya paling asik diskusi sama tipe yang ketiga. Orang yang berpengetahuan, tapi enggak sok. Orang yang punya tujuan akhir berupa kesimpulan akhir. Orang yang siap dibenci karena mengemukakan kemungkinan terburuk (yang enggak lebay) dari sebuah argumen tapi juga nyantai dalam pembawaan argumennya. Tanpa diminta, biasanya kita akan manggut-manggut tanpa sadar. Orang seperti ini akan bicara ketika ia sudah siap bicara dan menanggung negasi dari pendapatnya. Karena ia memiliki tujuan akhir berupa kesimpulan diskusi, orang seperti ini enggak akan marah, kecewa, apalagi ngambek ketika pendapatnya berhasil dinegasikan. Tidak harus berkarisma seperti pemimpin atau sangat berpengetahuan luas, tetapi yang dibutuhkan adalah kemampuan memulai topik, menggabungkan serta menyikapi argumen yang ada. Dibumbui dengan pembawaan yang khas, tipe seperti ini sangat menarik dalam diskusi.

these guys have been experimenting with music for over a decade. that rocks!


Kesimpulannya? Penggolongan orang dalam diskusi ini dapat dipakai untuk mendapatkan poin inti dari argument seseorang sesuai daya terima kita masing-masing. Akan tetapi, suatu kesalahan besar ketika kita sudah menutup kuping terlebih dahulu karena penggolongan kita dalam diskusi. Lagipula, seemas apapun kesimpulan akhir dari suatu diskusi, maka akan sia-sia ketika tidak ada realisasi nyata dari hasil diskusi itu.Dan satu lagi, berdiskusi dengan teman dekat itu mengasyikkan. Mari berkarya! Mari perbanyak teman! :D

Kalian masuk tipe yang mana? Atau ada tipe lain yang pernah kalian jumpai?


...


Anyway, ditengah demam k-pop dan musik synthetizer zaman sekarang, banyak juga Band Rock yang rilis album atau single.

Yang worth-listened (menurut saya) antara lain:

Linkin Park – Living Things (2012-released Album)
One Ok Rock – The Beginning (single)
Soundgarden – Live to Rise (The Avengers’ OST)
Three Days Grace – Chalk Outline (Album: Transit of Summer)
Hoobastank – This is Gonna Hurt (Fight or Flight)
Green Day – Oh, Love (UNO)
Papa Roach – Still Swingin’ (The Connection)
Yellowcard - Always Summer (Southern Air)
Muse – Madness (The 2nd Law)
Seether – Sympathetic (One Cold Night)

Would you like to share your list? 

Sabtu, 05 Mei 2012

Sherlock vs Holmes


Berasal dari karya Sir Arthur Conan Doyle, ‘Sherlock’ dan ‘Sherlock Holmes’ diadaptasi dalam bentuk yang berbeda. BBC TV Series ‘Sherlock’ mengadaptasi kisah detektif yang tinggal di 221B, Baker Street, London itu dengan latar belakang abad 21 dan analogi modern dari kisah-kisah Sherlock Holmes karya Conan Doyle. Sedangkan, film Hollywood, ‘Sherlock Holmes’ yang telah memiliki sekuel ‘Sherlock Holmes: A Game of Shadows’ merupakan fim aksi dengan alur analisis detektif yang menggunakan latar belakang Inggris sebelum abad 20 dengan alur cerita yang sama sekali baru. Tentunya, ada perbedaan karakter antara film dan tv series tersebut.


Sherlock
Diperankan oleh aktor Inggris Benedict Cumberbatch, Sherlock Holmes dalam BBC TV Series akrab dipanggil dengan nama depannya, Sherlock. Dengan latar belakang abad 21, kemampuan analisis Sherlock seringkali digambarkan dengan analisis tajamnya terhadap detail-detail kecil yang seringkali luput diperhatikan orang seperti kerutan kulit, lipatan pakaian, dan noda-noda kecil. Sherlock juga cenderung dingin, aneh, agak anti-sosial dan lebih banyak menggunakan kemampuan berpikirnya. Sama seperti pada karya Conan Doyle, Sherlock gemar bereksperimen di kamar sewannya di 221B Baker Street. Meski pada karya Conan Doyle, Sherlock Holmes merupakan ahli pedang dan bela diri, pada series ini Sherlock tidak terlalu memperlihatkan kemampuan aksinya. Sherlock dalam BBC TV Series ini juga digambarkan sebagai pribadi yang mengejar kebenaran secara mutlak dan mengesampingkan emosi sehingga tidak terlalu terlihat bijak. Sherlock tidak digambarkan sebagai protagonis utuh. Saat duel terakhir melawan Moriarty dalam episode The Reinbach Fall, Sherlock berkata ‘I might be on the side of the angels, but don’t think for one second that I am one of them’. Sherlock yang cenderung misterius secara gelap dan dingin mampu membawa thrill yang baru pada kisah-kisah Sherlock Holmes yang diadaptasi dengan latar belakang abad 21 yang penuh teknologi tanpa mengesampingkan karakter analisis khas Sherlock Holmes.


 'between a scientist and a philosopher, yet he chose to be a detective'


Holmes
Robert Downey Jr, aktor keren dari Hollywood yang susah serius, memerankan Sherlock Holmes pada dua film garapan sutradara Guy Ritchie ini. Pada film Hollywood ini, Holmes digambarkan sebagai sosok yang responsif, kocak dan benar-benar out of the box, meski tetap agak anti sosial. Sisi penyendiri Holmes tidak terlalu diekspos sehingga Holmes tidak terlalu gelap dan dingin. Pada film ini juga Holmes sering memperlihatkan kemampuan bela dirinya yang digambarkan dengan imaginasi strategi Holmes sebelum berkelahi. Holmes juga digambarkan sebagai sosok yang melakukan hal terbaik bagi semua orang sambil tetap mengejar kebenaran mutlak. Dengan latar belakang awal abad 20, Holmes juga digambarkan suka bereksperimen pada hal-hal yang tidak umum pada masa tersebut tetapi menjadi hal-hal umum di masa sekarang. Eksperimennya digambarkan dalam bentuk hal-hal aneh dan tidak terlalu gelap. Holmes dalam film ini juga bukan sebagai protagonis utuh, tetapi Holmes merupakan protagonis utama. Holmes menunjukkan sisi bijaknya melalui analisis dan perbuatan yang ia lakukan untuk mencegah hal yang tidak baik terjadi. It’s very American hero but still stunning and entertaining. Dengan alur kisah yang sama sekali baru, film-film Sherlock Holmes dari Guy Ritchie dengan Robert Downey Jr sebagai Sherlock Holmes merupakan film analisis dan aksi yang seru untuk ditonton.

 'In wise, he deduce brilliantly out of the box'

Rabu, 25 Januari 2012

Sherlock: Not A Review :p

Setelah nunggu dari akhir 2010, akhirnya Series Two dari UK TV Series Sherlock dirilis lagi Januari ini. Tiga episode super yang berdurasi 90 menitan ini punya kualitas yang enggak kalah dari versi layar lebarnya. Tiga episode ini antara lain A Scandal In Belgravia yang diadaptasi dari A Scandal In Bohemia, terus ada The Hound of Baskervilles yang diadaptasi dari judul yang sama, dan The Rheinbach Falls yang diadaptasi dari The Final Problem. Oke, apa itu Sherlock? Kok, ada adaptasi segala? Sherlock itu TV Series yang dirilis oleh BBC berdasarkan cerita detektif Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle dengan latar belakang kehidupan modern abad 21.
Nilai plus dari Series ini antara lain adaptasi apik dari cerita Sherlock Holmes dengan kehidupan modern yang relevan dan bahkan bikin tambah seru. Misalnya, kebiasaan Sherlock yang menghisap tembakau diganti dengan plester nikotin (meski kadang masih ngerokok), lalu publikasi kasus Holmes oleh Watson lewat blog pribadinya, belum lagi cerita utama kaya modus penipuan Irene Adler di Scandal in Belgravia, Anjing setan di Hound of Baskervilles, sampai metafora 'Falls' (Air Terjun/Jatuh) di The Rheinbach Falls.
Dialog analisis Sherlock yang cepet ditambah aksen British yang lumayan kental emang bikin beberapa scene mesti diulang biar ngerti. Tapi, buat yang males perhatiin detail analisis Sherlock, alur utamanya tetep jelas dan bisa diikutin.
and I found some awesome scenes that worth being snapshot :)


Holmes brothers. Sherlock (left) and Mycroft (right). Duo jenius di dunianya masing-masing


Sherlock (left) a Consulting Detective is in one cell with Moriarty (right) a Consulting Criminal


what is The Final Problem, Sherlock?

Dan seperti Series sebelumnya, Series Two ditutup dengan ending yang mengundang tanya dan tetap thrilling. Eniwei, Sherlock tayang di BBC One dan sudah dikonfirmasi bakal ada Series Three di awal 2013. Worth waited! :D
FYI. kita juga bisa nemu Benedict Cumberbatch (Sherlock) yang jadi naga dan Martin Freeman (Watson) yang jadi Bilbo di The Hobbit. Haha

Gambar terakhir agak spoiler nih, hehe

You really wanna know?
Kaskus
Sherlock Holmes Indonesia *Sherlockian kudu masuk..
Sherlockology *Fan site, cobain download ring tone-nya. Cool!

Kamis, 25 Agustus 2011

Movie Scenes

Midnight posting
Jam 01.45 AM dan gue belum tidur. Posisi di rumah dengan koneksi internet dan tv. Yap, banyak dukungan buat nikmatin malem lebih lama. Akhirnya dengan koneksi internet, gue iseng midnight browsing *bukan browsing yang itu **yang mana?!? ***yasudah

Gue suka nonton film, kadang (sok) ngutip beberapa quotes dari filmnya. Biasanya, ada beberapa scene dalam satu film yang bakal bikin film itu seru. Kebanyakan dari unforgettable scenes itu adanya di akhir sih, kayak klimaksnya. So, gue mau post beberapa scene film dari film favorit gue.
Here they go..

1. Remember Me

Scene favorit gue dari film yang dibintangi Robert Pattinson ini ada diakhir filmnya yang sekaligus jadi ending yang engga terkira banget. Filmnya dari awal membawa kita dengan background cerita kehidupan Tyler Hawkins yang broken home dan punya masalah kepribadian. Eh, tapi ga nyangka banget kalau ending filmnya bakal ngerangkum isi film seluruhnya dan benar-benar jadi ending. Music background dan quotes dari sang tokoh utama bikin endingnya lebih terasa dan gue pilih sebagai best scene dari film ini.




2. The Dark Knight

Dibuka dengan scene perampokan sampai peledakan rumah sakit, sequel film Batman yang disutradai Christopher Nolan ini emang thrilling banget. Belum lagi musiknya yang dikomposisi oleh Hans Zimmer. Film ini 'memaksa' kita buat ngikutin terus. Apalagi Joker yang dibintangi Heath Ledger itu beneran gilanya. Scene yang gue suka yaitu ketika Joker bawa truk ke tengah kota buat nyulik Harvey Dent yang ngaku jadi Batman buat menyelamatkan kota Gotham. Joker yang psychologically insane ini berhasil dihentikan oleh Batman. Well, truk kebalik hingga Batman yang diuji abis-abisan prinsipnya oleh Joker bikin scene ini jadi favorit gue.




3. Constantine

One of my favourite supernatural movies. Film yang diadaptasi dari Vertigo Comics ini nampilin Keanu Reeves sebagai detektif supernatural yang anti-sosial, John Constantine. Film ini gak menitikberatkan slasher scenes meskipun ada adegan iblis dan neraka. Pemahaman penonton yang lebih diajak main untuk bisa ngikutin cerita Constantine dalam mencegah Putra Iblis biar gak dateng ke dunia manusia di tengah umurnya yang sekarat. Meski beda dengan tampilan komiknya, Constantine di film ini masih tetep keren (sombongnya). Scene Constantine ketemu Lucifer yang jadi scene favorit gue.




4. Frequency

Mungkin fim ini gak terlalu terkenal. Nyari scenenya di YouTube aja lumayan susah. Film tahun 2000 yang dibintangi Jim Caviezel ini bercerita tentang komunikasi masa depan dan masa lalu yang berakibat perubahan jalan hidup seseorang. Seorang polisi dengan kehidupan pribadi yang rusak memiliki kesempatan buat ngobrol dengan ayahnya yang mati puluhan taun sebelumnya karena kebakaran. Bayangin aja, gimana kalo lo punya kesempatan buat ngobrol dan mencegah kematian ayah sendiri?! Dennis Quaid yang emang spesialis pemeran sosok ayah berhasil bawa suasana di film ini. Tentunya, scene favorit gue adalah ketika John (sang polisi) bisa ngobrol pertama kali dengan ayahnya lewat radio tua di rumahnya sendiri.




Overall, dua film action dan dua film drama yang gue pilih scene favoritnya. Sebenernya, film bagus gak harus ada scene favoritnya, kok. Gue pernah nonton film yang dari awal sampai akhir itu sama semua, tapi mood nonton lagi bagus dan nilai (ceileeh) yang ada di film itu gue dapet. Tapi kadang, ada film yang katanya bagus dan ditonton pas lagi engga mood itu bakal gak dapet banget sensenya. Anyway, ini cuma opini. Have fun! :D

Rabu, 10 Agustus 2011

The Killing: Perception is Circumstantial

Liburan ini, gue ngisi hiburan dengan nonton TV Series. Bukan karena ga ada modal buat jalan-jalan dan sebangsanya, tapi kesempatan finansial yang belum berpihak. *skip. Postingan (sejenis) review TV series yang udah ditonton selama liburan ini bakal jadi yang pertama. Review ini amatir banget, jadi jangan timpuk bata (monitornya), gan!

Salah satu TV Series yang baru kelar gue tonton yaitu The Killing. Series ini tayang di AMC . Yap, judulnya bukan The Killings atau The Murders tapi The Killing karena satu season yang banyaknya 13 episod dengan 2-hour special premiere ini mengupas habis satu kasus pembunuhan. Cuma satu kasus? Ngebosenin dong? Awalnya gue juga (nyoba) mikir kaya gitu, tapi ternyata asik juga buat ditonton. Kalo di CSI atau crime series lainnnya, satu kasus pembunuhan bisa kelar satu episode maka The Killing menyajikan segala sisi dari kasus pembunuhan yang satu ini. Tagline series ini yang bikin penasaran : “Who killed Rosie Larsen?”

Di awali dengan terbunuhnya Rosie Larsen, anak perempuan satu-satunya dari pasangan Stan dan Mitch Larsen dan kakak dari dua bocah laki-laki. Keluarga ini pada awalnya sangat bahagia. Mereka punya perusahaan angkut muat barang. Namun sepeninggal Rosie, keluarga ini mulai pecah. Kita bisa liat efek psikis dari hilangnya satu anggota keluarga yang parah banget di series ini.

Kasus pembunuhan Rosie ditangani sama Detektif Linden, seorang single parent dengan satu anak laki-laki yang agak bandel. Det Linden dibantu sama Det Holder, seorang drug addict yang baru aja dipindahin ke Divisi Pembunuhan tempat Det Linden kerja. Ceritanya, Det Linden ini udah punya calon ayah yang baru untuk anaknya dan bakal pindah untuk kehidupan barunya tapi semua itu terganjal sama kasus pembunuhan Rosie Larsen ini.

Di sisi lain ada juga cerita pemilihan walikota yang menempatkan Darren Richmond sebagai calon yang turun naik pamornya gara-gara kasus Rosie Larsen ini juga. Ternyata, Councilman Richmond ini punya peranan penting dalam Kasus pembunuhan Rosie Larsen ini. Tersangka kasus pembunuhan Rosie Larsen ini juga variatif, mulai dari temen SMAnya, gurunya hingga tersangka terakhir yang engga disangka-sangka banget *tapi bukan kayanya. Diliatin juga keadaan perpolitikan dalam pemilihan walikota Seattle (yang jadi background series ini), terus kultur masyarakat Amrik terhadap ummat Muslim paska 9/11.

Sama kaya TV Series AMC yang hit sebelumnya yaitu The Walking Dead, post-apocalyptic TV Series yang engga hanya bercerita tentang zombie, The Killing menyajikan sisi lain dari kasus pembunuhan Rosie Larsen. Overall, series ini bakal ngebosenin buat orang yang engga terlalu suka detail cerita dan pengen ceritanya to the point beres. Soalnya, series ini banyak bercerita juga soal masalahnya Detektif Linden yang single parent, Councilman Richmond sebagai kandidat walikota, masalah keluarga Larsen hingga fakta-fakta dibalik siapa Rosie sebenernya. Spoiler aja, ending dari series yang menang lumayan banyak Emmy Awards ini bakal ngegantung dan kemungkinan pasti ada season selanjutnya. I’m all over excited to this series. FYI buat yang langganan TV Kabel, The Killing bakal tayang di FOX.

kaskus link
imdb review
minishares download :p