Kamis, 06 Juni 2013
-
It's been mind-numbing lately. An archetype primitive system and the feminine atmosphere which lead to kill, um no.. torment the process of imaginative recreation.
Sabtu, 12 Januari 2013
[English Review] Kenshin
Anyway, it is not an English assignment. It is purely an English review made by an audience of a movie and a fan of an anime series.
Ruroni kenshin, or simply known
as Samurai X, is a widely popular manga. It has been adapted into anime and
several OVAs. This year, Warner Bros takes a chance to adapt this
Restoration-Era-manga into a live action movie. The movie was released on
August 2012. This time, I’ll present you the movie review into two parts: apart
from the original story and anime-movie comparison.
Apart from the original story
First, let’s put aside the manga
or anime imagination from the movie. Generally, Rurouni Kenshin is a well-scripted
movie. The story is simply amazing and describing a singular phenomena about
The Good versus The Evil decorated by Post-Restoration era in Japan. The
characters are as well building up the climax of this simple story. This movie
will entertain audiences who are not expecting the complicated philosophy in a
film. Unfortunately, the film-taking is not much compelling. Most of the
fighting scenes are not cinematographed well. So, it seems like we are watching
the swinging swords and sudden dead people without any clear clashes in
between. The Meiji-Era setting is also not well developed. It seems like we are
watching a Japanese drama in a particular studio. Mostly, we can not enjoy the
Post-Restoration setting which consists of Meiji-Era buildings and people. So,
apart from the original story, this movie is much entertaining because of the
simple story and characters which build up to it.
Anime-movie comparison
If you are well aware with the
story arcs from the original story, you will see the story of this movie is unclear
and crowded story. This movie is trying to tie several story arcs (even OVAs)
into one new story. As we aware with the original story, we will see the lack
of elaboration and complicated philosophy which is actually a value from Rurouni
Kenshin original story. We won’t see the personality growths from each
character because they are compressed into a nearly two hour live action movie.
The character, especially Kenshin Himura or The Battousai, is not well
elaborated despite a good acting from Takeru Satoh as the post-manslayer
wanderer. Originally, Kenshin is a complicated character with a deep turning
philosophy from a cold-blood manslayer fighting for Restoration into a naïve
gold-hearted wanderer. But in the movie, we only see a person walks into path
of redemption without any principal justification as we see in the original
story. Same thing goes to Saito character which is described as a loyal police
without showing his Shinsengumi ‘Slay, Evil, Immediately’ philosophy in this movie.
Then, the dramatization of the
movie is not well-developed. Rurouni Kenshin, even is a samurai movie, is not a
full-slasher movie. The dramatization of the story is needed for making this
movie granted to be remembered. The original soundtracks which made by Noriyuki
Asakura in three seasons of Rurouni Kenshin anime is achieving a high
dramatization of the original story. As the result, we can see that people will
always remember several Rurouni Kenshin story. The movie adaption will gain a
greater good if the dramatization, especially in original soundtracks, succeeds.
Conclusion
Rurouni Kenshin is simply a great
live action movie. it is basically entertaining. But, this anime-comparing is
happened when the storyline of the live action movie does not satisfy audience
well. Of course, it is hard to please people, especially the hardcore fans.
But, several noble values of the original story need to be elaborated in an
adaption in order to gather the old fans and newer audience of the movie. A
hope rises for the next adaptation of Rurouni Kenshin story. I personally think
that Trust and Betrayal OVAs is worth to be adapted as the next live action
movies with several cameos of Kamiya Dojo casts. This adaptation is needed to
elaborate Kenshin character. As the third adaptation, it will be great if Kyoto
Arc (Shishio and Juppongatama awaits!) combined with Enishi Arc (even if
Enishi’s accomplices have been shown in this movie) is installed as the epic
conclusion. I think it will be a great
series of movie, that I really do.
having a good day everyone ?
Minggu, 23 September 2012
The Portrayals
Solely, The Soul walks through
the street of bricks, guiding him to rest. Beyond that warm-blanketed
afternoon, he wonders the days before the star falling. The days where
complication is unheard and joys would not have floated in ease. Pure, hope it
whispers.
Encompassed by the sephia-colored sky, fragment of memories flash before his mind. In
confusion, he peels out the truth from its flesh, then trying to reverse the
pieces into senses. Deeds are under the fence, yet the fences are corrosive.
The land is allowed to be awful. Questions burst.
Do we act? Or do we portray those
chemical reactions? Or do we portray our own determined fate?
The Soul, as one of The
Portrayals, is sometimes losing the ground to stand. Sometimes, The Ones who
raised his wings are weakened. Somehow, The Chain he believes is collapsing. He
wishes a Pure whispering through the silence, telling him it’s not a sentence
for questioning but it’s a sin for doing nothing.
We are nothing but A Portrayal.
We portray several roles, some of us are not even aware when portraying their
last role, until a final holds us to the last breath.
Jumat, 24 Agustus 2012
Dalam Diskusi
Diskusi, ngobrol, sharing, debat
atau apapun jenis pertemuan dua orang atau lebih yang berfokus pada proses
argumentasi selalu punya identitas masing-masing. Tergantung orang di dalamnya.
Nah, saya mau mencoba sharing tipe-tipe orang dalam diskusi. Ini
pendapat pribadi, pasti banyak kekurangannya. Semoga bermanfaat.
Tipe pertama, dalam beberapa
ngobrol, kita bisa menemui beberapa jenis orang yang mengemukakan ‘kehebatannya’
terlebih dahulu. Orang jenis ini biasanya menggunakan referensi dan istilah
yang ia kuasai sendiri. Orang ini kadang membawa pendahuluan, cerita, dan
lelucon yang kadang kurang substantsial pada diskusi. Ia hanya merasa perlu
membawa diskusi itu sesuai pendapatnya. Poin akhir dari diskusi dengan orang
seperti ini biasanya bukan kesimpulan diskusi, melainkan sejauh mana porsi argumen
pribadinya bisa dijadikan kesimpulan bersama. Ciri khasnya, ia biasa
menambahkan ‘iya, gak..’ diakhir
pendapatnya. Kadang imbuhan itu ia ulangi sampai peserta diskusi lainnya manggut terpaksa.
Tidak ada salahnya berdiskusi
dengan orang seperti ini. Sejujurnya, orang kayak gini bahkan dibutuhkan. Menurut
saya, argumen menarik itu harus dapat
dipertahankan dan bisa menetralkan negasinya semaksimal mungkin, terlepas
dari seberapa arogan dan annoying
orang yang membawakannya. Tetapi orang seperti ini memang perlu diingatkan pada
kadar tertentu. Sayangnya, kebanyakan orang sudah menutup telinga terlebih
dahulu terhadap pendapat orang yang digolongkan sebagai orang arogan atau annoying ini. Sejauh saya mengikuti dan
mendengar diskusi, tipe seperti ini paling banyak di masyarakat.
Ada juga tipe orang yang
cenderung manggut sana-sini. Tidak punya
titik berpijak dalam diskusi. Biasanya orang ini sering mengucapkan ‘iya, maksud saya juga gitu… ’ Orang
seperti ini juga tidak memiliki poin akhir untuk mencapai kesimpulan diskusi,
melainkan keamanan posisinya dengan argumen mayoritas pada akhir diskusi. Orang
seperti ini juga punya kebiasaan lain yaitu suka ‘menengahi’ dan ‘menyimpulkan’,
padahal diskusi belum runcing dan belum pantas disimpulkan. Tipe kata yang
biasa dipakai itu ‘yaudah, jadi intinya..’
ketika diskusi belum terasa cocok mencapai inti. Tipe yang seperti ini lebih enggak asik dari tipe yang pertama
disebut tadi.
Sebenernya paling asik diskusi
sama tipe yang ketiga. Orang yang berpengetahuan, tapi enggak sok. Orang yang punya tujuan akhir berupa kesimpulan akhir. Orang
yang siap dibenci karena mengemukakan kemungkinan terburuk (yang enggak lebay) dari sebuah argumen tapi
juga nyantai dalam pembawaan
argumennya. Tanpa diminta, biasanya kita akan manggut-manggut tanpa sadar. Orang
seperti ini akan bicara ketika ia sudah siap bicara dan menanggung negasi dari
pendapatnya. Karena ia memiliki tujuan akhir berupa kesimpulan diskusi, orang
seperti ini enggak akan marah,
kecewa, apalagi ngambek ketika
pendapatnya berhasil dinegasikan. Tidak harus berkarisma seperti pemimpin atau
sangat berpengetahuan luas, tetapi yang dibutuhkan adalah kemampuan memulai topik,
menggabungkan serta menyikapi argumen yang ada. Dibumbui dengan pembawaan yang
khas, tipe seperti ini sangat menarik dalam diskusi.
these guys have been experimenting with music for over a decade. that rocks!
Kesimpulannya? Penggolongan orang
dalam diskusi ini dapat dipakai untuk mendapatkan poin inti dari argument seseorang
sesuai daya terima kita masing-masing. Akan tetapi, suatu kesalahan besar
ketika kita sudah menutup kuping terlebih dahulu karena penggolongan kita dalam
diskusi. Lagipula, seemas apapun kesimpulan akhir dari suatu diskusi, maka akan
sia-sia ketika tidak ada realisasi nyata dari hasil diskusi itu.Dan satu lagi,
berdiskusi dengan teman dekat itu mengasyikkan. Mari berkarya! Mari perbanyak
teman! :D
Kalian masuk tipe yang mana? Atau
ada tipe lain yang pernah kalian jumpai?
...
Anyway, ditengah demam k-pop dan musik synthetizer zaman sekarang, banyak
juga Band Rock yang rilis album atau single.
Yang worth-listened (menurut saya) antara lain:
Linkin Park – Living Things (2012-released
Album)
One Ok Rock – The Beginning (single)
Soundgarden – Live to Rise (The
Avengers’ OST)
Three Days Grace – Chalk Outline
(Album: Transit of Summer)
Hoobastank – This is Gonna Hurt (Fight
or Flight)
Green Day – Oh, Love (UNO)
Papa Roach – Still Swingin’ (The
Connection)
Yellowcard - Always Summer (Southern Air)
Muse – Madness (The 2nd
Law)
Seether – Sympathetic (One Cold
Night)
Would you like to share your list?
Senin, 20 Agustus 2012
The Conversation
Apa tujuan lo kuliah? – M. Alifa Farhan, seorang teman baik,
(bukan) ustadz,
Diawali dengan pertanyaan
tersebut saat kunjungannya ke Depok, Alif
senang sekali untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dalam sesi ngobrol itu juga ada Rahmi, teman satu SMA yang juga seorang
optimis muda, sama seperti Alif. Kami bertiga ngobrol banyak hal, mulai dari niat kuliah, defining happiness, kebijakan pers, hingga hal-hal mistik. Dan seperti
diskusi bersama teman CM, khususnya DerCG, lainnya, kita tidak hanya saling
mengangguk untuk mengiyakan. Kita saling menimpali opini, tapi bukan menghakimi
dan hal itulah yang membuat suatu
diskusi menjadi lebih berbumbu, tidak hambar dalam datar maupun tidak rigid
dalam takut.
Ada hal yang saya kira bermanfaat
dari diskusi kami. Dalam pencarian ilmu, Alif (yang saya lupa sumbernya) bilang
bahwa ada tiga jenis pengetahuan yang kita cari selama kita belajar.
1. Basic Knowledge: ilmu dasar yang diajarkan
secara umum. Semisal, pelajaran matematika, fisika dan lainnya untuk rumpun
sains. Bahasa, kewarganegaraan dan sebagainya. Ilmu dasar ini penting karena
ilmu inilah yang menjadi pondasi dari ilmu selanjutnya yang akan kita pelajari.
2. Specified knowledge: ilmu jenis inilah
yang membedakan satu pelajar dengan pelajar lainnya. Semisal, prinsip dietetik
tentunya harus diketahui lebih baik oleh seorang ahli gizi untuk membedakan
ahli gizi dengan profesi kesehatan lainnya.
3. Additional knowledge: ilmu tambahan yang
dapat menjadi aksesoris penguat kualitas intelegensi dan karakter kita sebagai
seseorang. Semisal, pengetahuan public
speaking dan kemampuan menyampaikan pendapat.
Dari sinilah, kita bisa
mendapatkan motivasi untuk belajar di ruang kelas selama perkuliahan karena
pada saat itulah specified knowledge
kita dipupuk. Dan ketika kita tahu bahwa perkuliahan memiliki andil besar dalam
pemupukan specified knowledge, maka
secara otomatis kita dapat terdorong untuk belajar dalam rangka pembentukan
jati diri profesi yang lebih baik. Demikian papar Alif.
Ohiya, dari sekian banyak hal (kurang)
penting yang kita diskusikan, ada satu hal yang menarik untuk ditulis, yaitu
bagian mendefinisikan kebahagiaan. Dimulai dari pertanyaan karir, (kalau gak
salah ya), Alif mungkin memulai karir di dunia Marketing, Rahmi di dunia
jurnalistik dan saya di dunia lain eh..
maksudnya dunia kesehatan. Lalu bebicara karir sendiri, kami membahas prioritas karir pribadi atau manfaat dalam nantinya bekerja. Salah seorang
dari kami memulai opini bahwa menanjakkan karir pribadi akan menunda manfaat
kita sebagai individu. Tetapi, kita juga harus menyadari bahwa harus ada penguatan kapasitas diri untuk memberikan
manfaat yang lebih besar. Semisal, kontribusi dari seorang mahasiswa akan
berbeda dengan kontribusi seorang lulusan doktor, baik dari segi dimensi,
kualitas, maupun kuantitas.
Seperti biasa, akhir diskusi selalu diiringi
dengan letupan semangat untuk menyusun rencana perbaikan diri (meski
perjalanannya berbeda). Kami pun dapat dikatakan sepakat untuk menjalani hal
yang kami percaya dan selalu memperkuat karakter diri sendiri. Terlepas dari
jalan karir yang nanti kami masing-masing ambil, kami percaya untuk saling
mengingatkan dan berbagi dalam kebermanfaatan. Dan dalam langkah menuju hal
tersebut, saya bersemangat untuk memulai eksplorasi diri seperti yang dua teman
saya ini sudah mulai. Jadi, ayo mulai!
:D
just the voice like a riot rocking every revision
Ada banyak hal dari ngobrol kami malam itu, tidak hanya yang ditulis di catatan ini.
Senin, 23 Juli 2012
Ulasan: The Dark Knight Rises
Dibuka dengan scene action yang
mencengangkan ditambah dengan komposisi musik Hans Zimmer yang apik membuat adegan pembuka
The Dark Knight Rises membuat penonton dapat menahan napas. Sekuel terakhir
dari Trilogi Batman karya Christopher Nolan ini menjadi salah satu most
anticipated movies in 2012. Dan benar, usaha dan biaya untuk menonton film ini
tidak akan menjadi hal yang disesalkan. Anda pasti tau trailer kan? Ringkasan film yang dikemas secara menarik dengan videografi dan komposisi musik terbaik yang diambil dari beberapa scene dalam suatu film dan digunakan untuk memancing penonton untuk menonton film tersebut, nah, The Dark Knight Rises yang dibintangi Christian Bale, Joseph Gordon-Levitt dkk ini seperti menonton trailer selama dua jam!
Gotham, 8 Tahun Kemudian
Menceritakan keadaan damai Gotham
setelah 8 tahun kematian Harvey Dent dengan Batman yang tidak lagi beraksi. Bruce
Wayne, sang Ksatria Gelap, menyembunyikan diri dari publik dengan luka tubuh
yang tidak lagi memungkinkan dia untuk beraksi sebagai Batman. Namun, keadaan
tenang Gotham itu ternyata hanyalah kedok dari persiapan penghancuran Gotham
oleh seorang musuh baru bernama Bane. Jika media menyebutkan bahwa Batman
Begins menekan Batman dari segi Fear (ketakutan), lalu The Dark Knight dari segi
Chaos (kekacauan) maka The Dark Knight Rises dengan tepat menekan Batman dari
segi Pain (luka) secara fisik maupun emosional. Bane merupakan perwujudan
penyiksa fisik dan emosional tanpa ampun. Berbeda dengan Bane pada film Batman
and Robin (1997) yang digambarkan sebagai monster tak berpikiran, maka Bane
pada The Dark Knight Rises merupakan penjahat perang strategis meski menekankan luka pada
lawannya.
Kehadiran Selina Kyle, Catwoman, juga membawa kunci penting bagi peran Batman dalam menyelamatkan kota Gotham. Tidak
hanya Catwoman, tokoh lain seperti John Blake, Jim Gordon, Lucius Fox, Miranda
Tate hingga Alfred juga memiliki peran penting dalam menentukan keberlangsungan
dari Batman sehingga film ini menjadi film superhero yang logis dan manusiawi
karena tokoh utama, yaitu Batman, tidak secara magis menjadi pahlawan. Pada film ini, jelas digambarkan bahwa Batman adalah sebuah simbol untuk menegakkan keadilan, maka pahlawan dalam film ini adalah Batman sebagai simbol Ksatria Gelap, bukan Bruce Wayne dalam kostum yang memerangi penjahat.
Ketidakhadiran The Joker
Gotham selalu menjadi ancaman untuk
dihancurkan pada setiap film Batman arahan Christopher Nolan. Namun tingkat
destruksi Gotham selalu meningkat setiap filmnya. Jika pada Batman Begins,
pusat destruksi ada di Arkham Asylum, lalu pada The Dark Knight kehancuran
mulai ada di beberapa pusat kota, namun pada The Dark Knight Rises, bersiaplah
karena kota Gotham akan dihancurkan dari segi yang lebih sulit untuk dicegah
Gotham. Pada penghancuran kota Gotham ini, bersiap pula untuk melihat kembali
para penjahat di film sebelumnya yang kembali dalam beberapa peran. Namun, sangat disayangkan ketika tokoh
perusak utama tidak waras yang menjadi musuh utama Batman pada The Dark Knight yaitu The Joker,
dihilangkan begitu saja pada film ketiga. Sebagai penjahat yang hampir membawa
Gotham pada Chaos (dari segi fisik maupun moral), The Joker tentunya dapat mengambil
peran pada penghancuran Gotham kali ini. Kematian aktor Heath Ledger, membuat
Chris Nolan menghormatinya dengan cara tidak menampilkan The Joker pada film
ini. Hal ini dapat dirasa membawa sedikit kekurangan kecil pada kerusakan yang dibawakan oleh Bane.
Konklusi Epik
Sebagai akhir dari Trilogi
Batman, The Dark Knight Rises membawa penonton pada ciri khas film Christopher Nolan
untuk melewati dalamnya cerita dalam film ini pada berbagai fase. Kejutan yang
dipadu dengan videografi dan komposisi musik membuat dramatisasi film ini
berhasil. Meski agak berkesan film ini ‘dipaksa’ untuk berakhir pada beberapa
scene, namun ending luar biasa dari film ini membuat sebuah konklusi epik dari
perjalanan Sang Ksatria Gelap. Soal gadget? Persiapkan anda untuk menikmati
aksi kendaraan baru Batman, The Tumbler. Aksi kejar-kejaran darat yang menjadi
scene epic pada dua film sebelumnya akan digantikan oleh scene darat dan udara
di film ini. Ketegangan memuncak karena pada film kedua kolaborasi Jonathan dan
Christopher Nolan ini menghadirkan alur yang benar-benar melibatkan seluruh
pemeran, bahkan hingga pemeran figurannya. Banyak hal yang dipandang dari sisi
yang lebih logis pada film ini seperti keabadian, kejahatan dan ‘being a hero’
itu sendiri. Cerita yang berbobot dibalut dengan action dan grafik yang luar biasa, The Dark Knight Rises menutup perjalanan Batman sebagai Ksatria Gotham dengan sempurna. Sekedar tips, tonton lah dulu Batman Begins dan The Dark Knight (meski
TDK gak terlalu berkaitan) agar TDKR dapat dinikmati lebih dalam. Christopher
Nolan dikabarkan tidak akan lagi terlibat dalam pembuatan film Batman lainnya. So,
Robin? :)
everything eventually ends, doesn't it?
Sabtu, 23 Juni 2012
Catatan Gunung Gede
![]() |
| Papan nama dari Pos Gunung Putri |
![]() | ||
| Bayu, Dila, Alfi, Faizal (Hambali yang ngambil foto) sebelum masuk jalur hutan. Mukenye pada songong, belum tau bakal beku di Puncak Gunung. |
![]() |
| Setelah 4 setengah jam perjalanan, sampai di Alun-Alun Surya Kencana. Mengharap ada tukang bakso yang lewat. |
![]() |
| Tingkah laku kakak-beradik di ketinggian sekitar 2500 mdpl. Mungkin efek dataran tinggi. |
![]() |
| Edelweiss, bro. Tapi kayaknya belum terlalu berbunga |
![]() |
| Puncak Gn Gede, 2958 mdpl, jam 6 pagi, suer dingin. Mukanya gelap biar keliatan artistik. |
![]() |
| buat cover majalah Trubus mungkin, masih di Puncak Gn Gede. Tetap nyengir meski dingin membekukan gusi. |
![]() | |||
| Gn Pangrango, dilihat dari Puncak Gn Gede amazingly beautiful, ceunah |
Akhirnya kesampean juga buat naik Gunung Gede. Pas 19 sampe 21 Juni 2012, 5 orang anak manusia berbekal kesotoyan dan persiapan yang kurang, naik-turun Gunung Gede dengan rute Jalur Gn Putri - Surya Kencana - Puncak Gn Gede - Jalur Cibodas. Meski kesengat lebah, nyasar pas awal berangkat, dan kedinginan luar biasa, perjalanan ke Gunung Gede bener-bener seru. Lelah yang secara magis hilang dalam 4 setengah jam perjalanan ketika sampe di Alun-alun Surya Kencana, mendirikan tenda jam setengah 8 malem di Puncak Gn Gede dengan suhu sekitar 18 derajat (gugling), hingga nyium bau martabak telor di tengah hutan. Gak ada target selanjutnya, cuma selalu ada keinginan buat naik gunung lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih mantap.
Crew:
Alfi Fudhola - Alfi (ketua kelompok)
Ahmad Hambali - Hambali (kapten kelompok, anak gunung aseli!)
Fadilla Nuraini - Dila (Srikandi pendakian! haha)
M. Bahrul Ulum - Bayu (dengan sotoynya bilang ada eceng gondok ditengah hutan dataran tinggi)
Faizal Firdaus - Faizal (emm.. begitulah)
Rute (yang seharusnya)
Depok - Kp Rambutan (Angkot 19 atau 112)
Kp. Rambutan - Pasar Cipanas (pake Bus Cianjur atau Tasik)
Pasar Cipanas - Pos Gunung Putri (nyarter angkot atau ojek)
Rute (yang kita jalani dengan kesotoyan)
St Pocin - St Bogor (comm line)
St - Bogor - entah terminal apa (angkot lupa juga apaan)
entah terminal apa - JALAN GUNUNG PUTRI (Bus cileungsi)
resmi nyasar
dapet pencerahan
JALAN GUNUNG PUTRI - tol Jagorawi (angkot, nanya aja)
tol Jagorawi - Pasar Cipanas (bus jurusan Kp Rambutan - Cianjur)
selamet
Tips:
bawa perlengkapan perkemahan personal yang lengkap kaya sleeping bag, jaket, celana panjang, sarung tangan, dan kupluk biar tidurnya bisa tenang. Tidur di Gunung pake sarung, jaket, dan celana panjang aja emang masih bisa idup sih, cuma gak nyaman. Jangan lupa juga bawa kompor dan logistik yang memadai, biar bisa makan - minum yang anget di puncak gunung. Mengkonsumsi roti sbg makanan utama pas naik gunung tidak disarankan, Bhahaha.
Meski udah daftar online, pengurusan SIMAKSI (surat izin naik Gunung Gede) cuma bisa diurus di Pos Cibodas, jadi pastiin ke Pos Cibodas dulu buat beresin SIMAKSInya.
Bawa batere dan alat dokumentasi yang lazim kaya camdig.
Berdoa dan berfoto secukupnya.
Kalo naik gunung itu, karakter seseorang bisa keliatan aslinya.
Langganan:
Postingan (Atom)


%5Bwww.savevid.com%5D.mp4_snapshot_01.15_%5B2012.08.20_01.36.06%5D.jpg)








