Minggu, 18 April 2010

The Lost Symbol : 3rd Journey of Robert Langdon


The Lost Symbol
3rd Journey of Robert Langdon, the symbolog.

.
.
Jum'at seabis ujian asrama bahasa Arab, ane meneguhkan niat untuk baca buku yang emang udah lama pengen ane baca ini. Dua buku Dan Brown tentang Langdon sebelumnya, Angels and Demons ama The Da Vinci Code bener-bener novel thriller yang bisa luar biasa. Dan sekarang, 3rd Journeynya Mr. Langdon udah keluar. Alip, lebih tepatnya Bapaknya Alip, beli ni buku. Alip udah baca, n ane berniat minjem dan baca.
..
..
Dan Brown agaknya sedikit melakukan reparasi di novel Langdon yang ketiga ini. Tetapi tetap saja plot sang penulis yang tinggal di New England ini masih sama. Langdon harus dihadapkan dengan organisasi rahasia, dikejar agen pemerintah, dan berhadapan dengan seorang psikopat yang fanatik. Hampir Mati dan akhirnya memecahkan misteri yang ternyata ada dihadapannya.
Tidak seperti dua buku yang sebelumnya (lho? formalan dikitlah. Bukunya bagus,) Kisah Langdon dalam memecahkan misteri kali ini tidak dibuka dengan kematian seorang kakek tua yang menjadi pemegang utama rahasia seperti dalam dua buku sebelumnya, Leonardo Vettra di Angels and Demons ama Jacques Sanierre di The Da Vinci Code. Tapi, sosok seperti itu masih ada di Buku yang ketiga ini. Sosok arif yang memegang rahasia utama. Tetapi kali ini ia tidak mati, lebih tepatnya belum mati. Sang pemegang rahasia adalah Master Terhomat Freemason bernama Peter Solomon.
Tidak seperti dua buku terdahulunya juga, petualangan Langdon tidak dimulai dari awal bersama seorang wanita yang merupakan cucu dari si pemegang rahasia yang tewas. Tidak ada sosok sepeti Vittoria Vettra ataupun Sophie Neveu. Tetapi ada Katherine Solomon yang merupakan adik Peter Solomon yang akhirnya ikut ke dalam cerita pada bab belasan.
Buku ini juga tidak terlepas dari sosok psikopat yang fanatik, sumber teror Langdon. Jika di Angels and Demons ada sang Hassasin (di filmnya, tidak digambarkan secara jelas dia beraksi), dan ada Silas si biarawan di The Da Vinci Code, maka ada sesosok pria yang menyebut dirinya Mal'akh di buku ini. Bedanya, sosok ini lebih indpenden dan membuat teror untuk memenuhi ambisi psikopatnya sendiri-tidak seperti dua tokoh antagonis sebelumnya yang hanya menjadi anak buah-.
Tentunya organisasi rahasia-Dan Brown menyebutnya organisasi yang menyimpan rahasia-pada Buku ini merupakan organisasi yang lebih luas dan terkenal. Jika ada Illuminati dan Priory of Sion yang keberadaannya masih dipertanyakan, maka Dan Brown membawa sesuatu yang lebih terkenal dan lebih dicap sesat yaitu Mason.
Eropa bukan lagi daerah yang fakta sejarahnya ditelanjangi Dan Brown. Sekarang, Langdon mengungkap rahasia-rahasia di negeri Harvard sendiri, lebih tepatnya di Ibu Kota Negeri Paman Sam, WASHINGTON D.C.
..
Dan Lagi, masalah yang diangkat Dan Brown yaitu mengenai keimanan, eksistensi Tuhan-atau Dia Yang Maha -, serta ambisi manusia untuk menjadi sempurna. Meski plotnya mengejutkan-seperti identitas Mal'akh yang sebenarnya-buku setebal 700 halaman lebih untuk edisi indonesia ini lebih menjabarkan bagaimana Dan Brown melalui Robert Langdon memandang agama-semua agama-sebagai satu identitas yang berevolusi di masyarakat dalam menegakkan budaya-dalam berhubungan dengan Dia yang Maha. Bisa dibilang penceritaan buku ini tidak Atheis (A untuk tidak dan Theo untuk Tuhan) tetapi buku ini menjabarkan cara baru memandang Tuhan dari Perspektif yang Disembunyikan. Freemason merupakan contoh organisasinya.
Keluarga Solomon yang dilematis memegang kunci pemecahan untuk mengungkap korelasi antara misteri kuno dengan ilmu pengetahuan kuno. Jika dalam dua buku sebelumnya selalu menjabarkan jelas tentang pertentangan agama-sebuah tradisi menurut Brown- dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern maka buku ini berusaha menemukan korelasi dan menampar manusia tentang kenyataan sejarah dan pernyataan yang diilmiahkan antara Misteri Kuno dan Ilmu Pengetahuan Modern.
Nyatanya eksistensi Tuhan yang diekuivalenkan Dan Brown dari semua agama, yang paling disebut antara lain-Buddha, Islam, Kristen, Hindu-bersarang pada Sang Ciptaan. Dan Brown melalui buku ini mengajarkan bahwa simbol bukan hanya tanda. Melainkan dapat berbentuk metafora, alegori, dan figurasi yang selama ini kita kenal, kita tahu tetapi kita belum pahami sebelumnya.
Dengan alur yang khas, serta wawasan luas sang simbolog, saya merasa bahwa tanah yang sedang dipijak Langdon di buku ini tidak seperti gambaran Ibu Kota Negara Adidaya sekarang ini. Dan Brown seakan mengajak sisi mistis atau sisi kuno dari Amerika. Dalam gedung-gedung Amerika dengan kecanggihannya seperti Smithsonian Museum Support Center. Ada juga bangunan seru lainnya seperti U.S Capitol, Kathedral, House of Temple, hingga Monumen Washington. Sebuah Dunia Baru untuk menyembunyikan rahasia. Hingga orang-orang tak terduga dibalik rahasia besar seperti Benjamin Franklin, George Washington hingga Isaac Newton.
Bisa dibilang, untuk membuat buku ini terlihat nyata dan sungguhan, Dan Brown mengumpulkan fakta-fakta unik dan tidak biasa serta membangun korelasi yang entah fiktif atau berdasarkan riset dan tentunya dapat membuat pembaca meraba kebenarannya hingga akhirnya terpukau oleh korelasi fakta-fakta tersebut.
Perbandingan Akhirnya, Angels and Demons-mungkin merupakan tulisan pertama Dan Brown dalam mengungkapkan korelasi dari fakta yang dianggap tabu-menyuguhkan aksi yang mencengangkan tetapi dengan pendalaman cerita yang kurang begitu membingungkan (jika dibandingkan dengan dua buku setelahnya), yang tetap saja seru untuk dibaca. The Da Vinci Code benar-benar seperti riset sejarah yang menggunakan pendalaman detil untuk menyajikan alur cerita yang menalar iman-sesuai harapan Dan Brown-dengan dialognya tetapi kurang menyuguhkan aksi mencengangkan dalam ceritanya. Maka Buku ini dapat dipandang sebagai reparasi atau lebih tepatnya kombinasi dari kedua buku sebelumnya-tentunya dengan ketebalan yang juga melebihi dua buku sebelumnya-menjadi buku dengan petualangan mencengangkan yang seru serta pengguncangan iman oleh fakta korelasional Dan Brown. Tidak hanya agama kristen. Tetapi semua Agama. Semua Kepercayaan
...
Pada akhirnya, sebagai seorang yang memiliki kepercayaan (Insya Allah)
fakta-fakta korelasional buatan Dan Brown (entah hasil riset) mengukuhkan adanya kepercayaan dalam diri manusia untuk selalu memperbaiki diri. Kepercayaan itu bukan buatan manusia. Ada Yang Maha Kuat yang membuat kepercayaan itu ada dalam diri manusia-saya-.
Saya menyebut kepercayaan itu sebagai Agama. Bukan sebuah percampuran tradisi biasa.
Dan saya (Insya Allah) beragama Islam.
Misteri Kuno yang berisi petuah-petuah tersandikan agar dibaca dan dipelajari manusia untuk memperbaiki hidupnya. Dan Brown menuliskan bahwa Alkitab berisi ajaran tersandikan untuk ilmu pengetahuan yang luar biasa. Saya juga mempercayainya. Ada sebuah kitab-lebih modern dari Alkitab-yang berisi ajaran tersandikan. Ajaran itu bukan hanya untuk mereka yang tercerahkan. Tetapi untuk semua ummat melalui mereka yang telah mempelajari dan memahaminya. Sebuah Kitab yang dapat mengungkap ilmu pengetahuan modern. Diturunkan empat belas abad yang lalu.
Saya menyebutnya Al-Qur'an
Dan Brown menyebut adanya orang yang tercerahkan. Menerima ajaran untuk membawa ummat menuju pencerahan dari kegelapan. Seroang revolusioner. Seorang yatim yang ditunjuk sebagai orang nomor satu paling berpengaruh sepanjang masa.
Saya mengenalnya sebagai Nabi Muhammad saw, Sang Rasulullah.
Dan ada sesuatu Dzat. Tidak terdefiniskan. Tidak terjangkau. Tetapi eksistensinya ada dan sangat kuat. KepadaNya Manusia berlindung dan memohon pertolongan. Sang Pencipta. Yang Memberi Kehidupan. Sang Arsitek Alam Semesta.
Saya menyebutnya ALLAH swt.
...
..
.
Tidak ada misteri.
Yang ada hanyalah suatu hal yang dilihat dari perspektif yang salah.

--Dan Brown
.
.
..
...
(tengs buat Alip. Udah minjemin bukunya. Juga Alpi, yang selalu bikin saya baca karena ni bocah mau minjem abis ane. Apa ane udah bilang kalo di Buku ini Robert Langdon "MATI???" Hhe seru lah.)
..

Well, Selalu ada hikmah untuk mereka yang berpikir

Minggu, 28 Maret 2010

Page of Life : Against Boredom

Sebuah curhatan dari orang yang udah lebih dari tujuhbelas taun menghirup oksigen di permukaan bumi (dalem aer juga pernah, waktu ampir tenggelem)
..
Life is a kind of competition
winner gets everything
loser gets nothing

..
Persaingan untuk bisa mencari yang tidak tersisihkan. Dan yang tersisihkan itu mati? Wajar kata sebagian orang. Dalam persaingan yang meruncing itu juga banyak sekali cara untuk menjadi yang tak tersisihkan. Sistem yang dipakai dalam persaingan itu juga spertinya sudah banyak yang usang dan mulai berkarat. Subjektivitas berbalut kemunafikan mewarnai persaingan yang menyebabkan orang-orang tersisih semakin termarginalkan. Di balik senyuman palsu itu, berbaring kebohongan-kebohongan kejam yang tak bisa terungkap. Peraturan-peraturan yang semakin rapuh digerus pelanggaran dan nilai-nilai yang telah disayat oleh mereka yang seharusnya menjalankannya.
..
..
Dengan alasan kemudahan kah?
Esensi dari pelaksanaan norma itu harus digerus? Semua tahu itu. Tapi semua diam. Menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Hidup seenak jidat sendiri, tidak peduli perasaan yang akan tertumbuk dengan apa yang dilakukan.
Diferensiasi strata dianggap sebagai suatu hasil dari interaksi sosial. Hal ini menyebabkan mereka bisa tertawa atas kekalahan yang lainnya. BAHKAN, menganggap kepergian dari yang tersisih sebagai suatu kewajaran. Sial!!
..
Apa yang bisa dipertahankan dari bangunan yang tiangnya sudah rapuh dan melapuk hancur?
Menunggu Kehancurankah?
Bahkan rasa bosan ini menggerogoti nadi untuk memberontak, tapi tak bisa. Rasa bosan dan lelah akan segala kemunafikan yang terpampang jelas dalam etalase kehidupan ini. Mereka sebut itu cinta. Padahal yang mereka lakukan adalah menyayat nilai-nilai yang hanya ada di tanah yang mereka tidak tahu sama sekali.
Does it end??
..
..
..
Kayaknya enggak juga
Bumi, dengan segala kegelapan dan persaingannya, gak gitu-gitu amat
Memang hal buruk dari hidup ini nggak bisa disembunyikan
Tapi memang karena ini Bumi, bukan Surga
Manusia emang hidup untuk menatap segala kemunafikan itu
Manusia emang hidup untuk menatap segala kerusakan itu
Manusia emang hidup untuk menatap segala kehancuran itu
tapi yang terpenting adalah bukan hanya untuk memaki, mencela, dan mendendam atas segala sisi buruk bumi
TETAPI untuk berusaha memperbaikinya
dari kerusakan yang sebesar biji atom pun
..
Jika kita percaya sesuatu akan hancur, maka sesuatu itu akan hancur
APABILA kita hanya diam dan memaki kehancuran itu
Tapi jika kita tahu akan ada kehancuran, dan kita masih berusaha
maka mungkin kehancuran itu bisa terelakkan
at least, nggak ancur-ancur amat.
Everything has two sides or more
..
This life is probably rotten
It's easier to run
but, as the sun shines in the dawn
there's hope in every pieces of light
as our willingness to change

.
.
Peraturan dan kehidupan yang stagnan itu tergantung dari kita ngadepinnya
Hidup ini kaya stage game, yang akan naek setiap kita menyelesaikan stagenya
Bukannya di game juga ada aturan ya.. Biar bikin gamenya susah. Biar bikin gamenya gak ngebosenin.
So, if they said that there'll be destruction
I'd like to stand
Trying to stand

karena ane percaya ane nggak sendirian. Masih ada orang yang pengen melakukan perubahan. Perbaikan. Mempertahankan nilai-nilai. Sebaik Mungkin. Sehingga kita bisa buktikan bahwa kita nggak akan berakhir di sini.
Fight together..
Win together..

..
..
(ngaco? emang...)

Kamis, 31 Desember 2009

One Last : Untuk Sahabat

Everything comes
Everything goes


2009 menorehkan catatan tersendiri. Beberapa dateng, dan beberapa laennya juga pergi. Perpisahan pun gak bisa dielakkan untuk terjadi. Yang akhirnya, akan ada memori baru tersimpan dalam jaringan neuron ini. Saat tersenyum bareng, tawa bareng, hingga canda bareng. Dan yang mungkin agak sulit untuk dilupain yaitu saat nangis bareng. Saat air mata ini keluar bareng. Ada kesedihan yang bikin kita nyatu, walau dalam tangis. Untuk saling memperbaiki dan memaafkan.
Perpisahan selalu aja menuai kesedihan. Walau kita masih menginjak satu bumi dan masih bernapas dalam satu dimensi. Nggak seperti sebuah perpisahan lain. Dimana nanti kita akan terpisah ruang dimensi dunia. Akan sulit untuk bertemu. Karena yang berpisah bukan raga aja. Tapi jiwa. Dan itu pernah terjadi. Akan terus terjadi. Untuk semua orang.
It has been more than a year
Perpisahan dimensi yang terjadi karena suatu kebodohan manusia dan kehendak Yang Maha Kuasa. Suatu persahabatan yang terputus. Kepergian seorang teman akibat ketololan yang satunya. Mereka berjuang bersama untuk meraih ilmu di tempat yang lebih. Tetapi keadaan berbeda di tempat ilmu yang lebih itu. Seorang manusia yang mengejar gemerlap bintang, sementara temannya harus berjuang bangun dari derita serpihan gemerlap bintang itu.
Dia, secara nggak sadar, meninggalkan temannya yang masih terpuruk dalam gelapnya kesendirian. Si pengejar gemerlap nggak bisa mendengar rintih dan pilu sahabatnya dalam kebekuan yang hampa. Hingga kepergian sahabatnya dalam sepi akhirnya bisa menampar si pengejar dan membuahkan sesal mendalam di hatinya. Temannya pergi. Terpisah dimensi. Dia mengejar sesuatu yang nggak dia dapat. Penyesalan pun diam di hatinya. Dia bergumam sesal Andai saja dia tinggal dan nggak meninggalkan temannya itu. Untuk sekedar mendengar keluh sendirinya. Bodohnya!!!
Tetapi dia terjaga oleh keadaan. Nggak mungkin bagi dia untuk menyesali dirinya terus karena kepergian temannya. Temannya itu selalu akan tersimpan dalam bentuk kenangan. Dia menyadari, karena dia harus menyadari bahwa masih ada kanvas untuk dilukisi. Masih ada hari esok untuk ditapaki. Dan masih ada teman untuk sukses bersama. Cause, losing a friend is too many. It carves a deep pain and an endless regret.
Memang kedengeran tua tapi mungkin berguna karena Masa lalu itu adalah refleksi dan motivasi diri untuk meraih masa depan yang masih menjadi mimpi dan misteri serta menjadikan hari ini selalu berseri. Bersama teman.

Everything ends
Everything begins


Minggu, 25 Oktober 2009

Senandung Boedjang

Istilah Bujang mulai populer di kalangan bocah-bocah ikhwan di Tanah Madani. Mereka lebih mengaitkan istilah Bujang dengan perjaka-perjaka yang tidak berstatus pacaran atau "punya pacar di CM". Hehe
Ada beberapa alasan untuk memBujang. Mungkin sebagian dari pada Bujangers (wahh nama artis tuhh. Billy Boedjangerss), memilih untuk tetap membujang karena tidak suka dengan komitmen pacaran dengan kesannya yang mengikat dan kaku. Para Bujangan tipe ini merupakan Bujangan tipikal ikhwan normal yang masih suka lawan jenis tetapi nggak mau terikat hubungan. hhe
Terus..
Bujang di tanggapan ane?
Sebagian bujang memilih untuk tidak mengikat komitmen karena mereka menganggap bahwa lawan jenis mereka adalah permata yang terlalu berharga apabila dimiliki. Bujang menganggap bahwa dengan posisi sekarang, mereka masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk apa yang seorang lawan jenisnya dapatkan (asikk). Bujang juga memiliki perasaan apa yang mereka sebut "suka" atau "cinta". Tetapi kayaknya mereka terbentur dengan keadaan bahwa menahan perasaan adalah langkah terbaik untuk tidak merusak keindahan dari sang lawan jenis pujaan.
.
Bujang bukan homo, pasti beerat sekali dalam menahan perasaan. Untuk tidak melakukan apa yang orang lain sebut dengan "menjalin hubungan". Karena Bujang percaya bahwa dengan "menjalin hubungan" dengan gadis impian sekarang hanyalah luapan emosi yang justru nanti bisa merusak diri dan diri dari sang lawan jenis pujaan.
Bujang pria menganggap bahwa kaum hawa merupakan permata yang sangat indah dan berkilauan, mereka keras dan kuat tetapi dapat rusak apabila tidak terjaga. Untuk itulah, Bujang masih menunggu hingga saat yang benar-benar tepat dan mampu merawat sang Permata. (blueekkk...)
..
Being alone??
Gak juga. Bujang gak sendirian. Bujang punya sahabat-sahabat. Sesama jenis. Atau dengan Lawan jenis dengan batasan-batasan dalam pergaulannya. Bujang punya kebebasan untuk terbang. Bujang ingin selalu bebas. Hingga nanti benar-benar datang waktunya untuk menjalin sesuatu yang terikat. Bersama. Dan, untuk menambah rasa damai di muka bumi ini...
.
.
Nah itulah deskripsi Bujang versi Ane.
Karena secara gak langsung...
.
.
itulah Ane
hhe
si Bujang yang lagi bikin rekor
n punya komitmen sendiri untuk gak Katro dalam bergaul tapi punya batasan yang menjunjung etika. Dan tetap memBujang hingga saatnya tiba. Hanya untuk Dia. Dia Seorang.
.

Kamis, 24 September 2009

Renungan Tanah Berbaris



Mereka yang berbaring, terbeku dalam tanah
Hening tanpa sayup suara yang ada di tanah itu. Ane melihat barisan tanah yang tidak terlalu rapi. Ada yang bergunduk, ada juga yang rata. Ada berhiaskan semen atau keramik. Namun ada juga yang hanya ditancapi nisan kayu untuk menandai bahwa disitu ada dia yang berbaring, terbeku dalam tanah.
Mereka menghadapi pembaringannya dalam berbagai masa. Tidak sedikit dari mereka yang sudah harus menghadapi pembaringannya di usia muda, mengingatkan pada kami ,yang berpijak di atas tanah, untuk selalu bersiap.
Mereka yang berbaring, terbeku dalam tanah
Dengan rapuhnya memberi tahu bahwa sungguh berguna untuk memikirkan apa yang sudah kami lakukan untuk orang lain, dan sedikit guna mengenai keluhan dari apa yang orang lain tidak berikan untuk kami. Selagi kita berpijak di atas tanah, akan ada luka, sakit, dan duka yang menghampiri bahkan menampar. Tetapi, ada banyak luka, sakit dan duka yang orang lain terima. Lebih dari kami,
Dengan santunnya memberitahu bahwa mengeluh dalam menunggu kebahagiaan itu sedikit guna dan menyiksa. Dan lebih berguna untuk mendatangkan kebahagiaan itu, mungkin dengan membahagiakan orang lain terlebih dahulu. Dengan hal itu, kebahagiaan akan dapat terasa.
Dengan rendahnya memberi tahu bahwa sungguh berguna untuk berterimakasih dengan apa yang sudah kami miliki dan dapatkan, dan sedikit guna untuk mengeluhkan apa yang tidak kami miliki dan dapatkan. Mereka memberitahu untuk berusaha dalam melengkapi segala sesuatu yang tidak kita miliki dan dapatkan, atau menjadikan sesuatu yang kita miliki dan dapatkan untuk melengkapi apa yang tidak kita miliki dan dapatkan.
Dengan ramahnya memberi tahu bahwa sangat baik untuk berterimakasih untuk sesuatu yang masih ada. Di sekitar kita. Terkadang kita benci. Terkadang kita sukai. Banyak hal. Karena akan menjadi suatu penyesalan ketika sesuatu itu pergi dan menjadi tidak ada.
..

Ane sadar. Ane mulai berusaha untuk melakukan apa yang telah mereka beritahu. Ane belajar untuk selalu berterimakasih. Bersyukur. Berusaha untuk meluruskan niat. Berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Walaupun itu lebih mudah diketikkan, dituliskan dan diucapkan daripada dilaksanakan. Tetapi dengan teman-teman, mm.. sahabat-sahabat yang Ane miliki, akan lebih ringan jika bersama.
Selalu ada hikmah bagi mereka yang mencari.
You all complete what I don’t have
It makes me seems like to have more
Thanks for all of you guys.

Minggu, 30 Agustus 2009

Bahtera der Crux

Emang nggak kerasa, beberapa minggu lagi bahtera keorganisasian SMAN CMBBS yg dipegang der Crux Generation akan berlabuh. Kapal keorganisasian dengan Alfi sebagai kapten kapal, dan seluruh siswa SMAN CMBBS sebagai unsur kapal memang banyak mengalami karam, deburan ombak, badai, hingga hampir tenggelam. Tetapi, pengurus kapal keorganisasian yang terbagi dalam 10 bidang selalu berusaha walau duka menyapa atau ketidakbersamaan menepak kita. Tetapi kita satu, badai cobaan nggak akan menenggelamkan kami dalam bahtera masa jabatan 2008/2009. Meski kami akui masih banyak kesalahan, tetapi anak-anak der Crux telah harus siap melabuhkan Kapal Keorganisasian ini.
.
.
Setelah kelasi der Crux berlabuh, kami memulai perjuangan baru. Menapaki jejak ilmu untuk mendaki tebing ujian negara agar masuknya kami ke gedung ilmu yang lebih baik. Beberapa dari kamu sudah memulai persiapan untuk pendakian, tetapi ada juga beberapa yang masih berkutat di Kapal Keorganisasian.
Banyak sekali persiapan yang harus kelasi der Crux lakukan untuk memulai pendakian ujian-ujian itu. Mulai dari tuntutan akan internal awak kapal der Crux sendiri yang harus meningkatkan kebersamaan dan tenggang rasa, hingga bekal eksternal seperti dukungan dari pembina awak kapal der Crux bernaung.
Beberapa awak der Crux bahkan mengeluh dan meminta, tetapi pada hakikatnya mereka hanyalah awak kapal yang harus berevolusi jadi pendaki sehingga masih harus meminta untuk dibimbing.
.
.
Tetapi der Crux dengan segala bekal, pengalaman, jurus, dan kebersamaannya siap untuk berevolusi dari awak kapal Keorganisasian menjadi Pendaki Ujian demi menggapai gerbang Gedung Ilmu sesuai harapan mereka masing-masing.
.
.
Itulah peran kami
der Crux yang akan dan harus siap mendaki terjalnya ujian-ujian nanti.
.
dan Ane adalah salah satu awak der Crux yang juga menjabat sebagai si Pengganti. Karena tugas utamanya menggantikan sang Kapten jika Kapten gak ada. Ane sebagai awak der Crux merasakan bahwa perlu kedewasaan dalam persiapan untuk pendakian terjalnya tebing ujian. Ane sebagai awak der Crux yang berganti peran menjadi pendaki dan penapak ilmu juga berharap :
Apabila seutas tali saja dari awak der Crux yang putus ketika pendakian tebing ujian, akan selalu muncul awak lain yang bersedia mengulurkan talinya untuk membantu sesama awak der Crux dalam pendakian.
Tidak ada awak der Crux yang justru jatuh dalam jurang keputusasaan dan tenggelam dalam laut hinanya derita seorang diri. Awak der Crux itu menyinari satu sama lain.
.
.
Itulah sekelumit tetesan neuron Ane, seorang awak kapal der Crux yang masih belum dewasa, sempat tenggelam dalam keputusasaan serta hampir terdorong jatuh dalam jurang kesendirian. Ane berharap der Crux dapat berlabuh dengan selamat.
DAN MEMULAI PENDAKIAN TEBING UJIAN HINGGA KITA TIBA DAN SUKSES
.
Makasih buat anggota der Crux n penapak ilmu tanah Madani lainnya.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Refleksi Seorang Kakak

Sasuke terhenyak. Kakak yang selama ia benci, ternyata merelakan dirinya untuk dibenci oleh adiknya sendiri. Hal itu semata-mata untuk membuat Sasuke, adiknya, untuk terus membencinya dan terus menjadi kuat. Akhirnya, Sasuke berhasil membuktikan kekuatannya dengan membunuh orang yang ia sangat benci. Dan pada kenyataannya, orang yang ia benci justru orang yang sangat mencintainya.

...
Entah kenapa pada hari itu, Selasa 28 Juli, saya merasa ada sesuatu yang perlu saya lakukan. Perasaan itu terus menggeluti hati saya. Emosi saya terkadang menjadi agak kurang stabil, dahaga karena ada sesuatu harusnya saya lakukan, tapi tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Saya baru terhenyak sadar ketika di Masjid keesokan subuhnya. Saya menyadari bahwa kemarin, tanggal 28 Juli, seseorang berulang tahun. Seseorang yang dekat dengan saya, tetapi jauh dengan saya. Saya menyesali diri karena hingga lupa.

Hari itu ulang tahun adik saya, Bayu.

Dia dekat dengan saya. Karena sebagai adik laki-laki saya, usia kami hanya terpaut 10 bulan. Namun, dia juga jauh dengan saya. Saya yang menuntut ilmu di tanah madani terkadang sesat dalam hingarnya canda dan tawa di tanah ini. Seakan lupa bahwa saya juga memiliki seorang yang dekat. Adik saya.
Dia memang adik saya. Namun, terkadang terbersit di hati saya beberapa pernyataan yang membuat saya agak menyesali diri. Karena dia yang dekat dengan saya, tetapi juga jauh dengan saya.
Terkadang saya malu, saya menikmati kebersamaan dengan teman-teman saya, tenggelam dalam canda, hingga mengikrarkan bahwa teman-teman saya sangat berharga. Tetapi, seseorang yang dekat dengan saya sendiri, jarang waktu yang terluang untuk memadu kalam dengannya. Mengobrol santai untuk membicarakan masa depan nanti, jalan hidup kita, hingga bagaimana cara kita membahagiakan orang tua kita kelak, atau mungkin sekedar menatap senyumnya saja.
Terkadang sesal terbit di hati ketika saya dapat meluangkan beberapa lembaran rupiah yang saya miliki untuk saya nikmati, terkadang dengan teman saya. Tetapi jarang sekali saya memberikan sesuatu untuknya sebagai seorang kakak.

Tentu, pada subuh itu, hanya Doa yang saya hanya dapat panjatkan kepada Allah swt sebagai kado untuk adik saya. Ia yang telah bertambah umurnya, lebih dewasa, tetapi juga memasuki masa di mana pencarian jati diri adalah fokusnya. Dan di saat seperti itulah, seharusnya seorang kakak ada untuk mendampingi. Meski hanya seberkas lilin dalam kamar gelap yang dingin, semoga dapat menerangi dan menghangatkan.
Semoga seiring dengan fajar subuh itu, kedewasaan, hidayahNya, rahmatNya, selalu mengiringi adik saya.

Dalam komik epik Naruto, Itachi rela dibenci agar sang Adik bisa mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan dan dapat menjaganya, menyiksa diri dan perasaan karena harus rela dibenci oleh adik yang sangat ia sayangi dan ia lindungi. Hingga harus berakhir dengan membawa nama buruk agar nama baik adiknya melambung.
Saya memang bukan kakak yang seperti itu. Tapi saya akan mencoba untuk menjadi kakak yang lebih baik. Menjadi kakak yang baik untuk adik-adik saya.

As the sun warms and covers the world from the cold of the night, i'm still trying to be a better eldest brother. Perhaps, to be a best eldest brother




Terima kasih saya untuk adik-adikku, yang dekat tapi jauh. Karenanya, saya dapat bertahan di tanah madani.



'''Buat seluruh kakak yang mencoba merefleksikan perannya sebagai seorang kakak untuk adik-adiknya.